Umat Konghucu Surabaya Tolak Penghapusan Kolom Agama

kolom agama ktpSurabaya, Bhirawa
Umat Konghucu memastikan mendukung adanya kolom agama dalam Kartu Tanda Penduduk(KTP). Pengurus Matakin (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia) Jatim menyebut wacana penghapusan kolom agama dalam KTP bisa berdampak besar terhadap kehidupan beragama dan bermasyarakat di Indonesia.
Diutarakan Liu Pramono, Ketua Matikin Jatim, bahwa dengan falsafah Bhineka Tunggal Ika seharusnya setiap perbedaan itu harus tetap dihargai. Demikian pula agama, merupakan hak masing-masing setiap orang untuk memeluknya.
” Kolom agama pada KTP merupakan kebebasan menyampaikan imannya kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk tertulis dan disahkan negara. Jika di hapus, sangat bertentangan dengan Sila Pertama Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa,” ujarnya Selasa (11/11) kemarin di Surabaya.
Selain itu, kolom agama dan pemahaman agama yang benar dapat mengingkatkan setiap insan manusia untuk hidupnya tidak kacau, jadi semua perjalanan hidupnya ada kaidah dan aturan yang harus dipatuhi.
” Dengan adanya kolom agama, paling tidak dapat menekan perbuatan yang tidak sesuai dengan norma agama seperti kumpul kebo. Selain itu dengan kolom agama, sangat diperlukan jika yang bersangkutan meninggal, karena setiap agama ada tata cara pemakaman atau pengkremasian yang disesuaikan dengan kepercayaan masing-masing,” tegasnya.
Ia menambahkan, kolom agama merupakan single identity bagi setiap pemeluknya. Sehingga hal tersebut merupakan ciri khas masing-masing umat yang harus dihormati setiap haknya. Kolom agama, seperti golongan darah yang mengalir dalam tubuh kita, jika di hapus maka orang semakin meninggalkan keimananannya.
” Darah dan agama berjalan beriringan, sejak manusia tersebut dilahirkan. Bahkan sejak dalam kandungan pun, jabang bayi sudah diberikan doa yang kelak anak tersebut dapat hidup lebih baik dengan agama yang ada. Kolom agama dihapus, sama seperti mendidik anak tanpa aturan. Artinya kita mengatakan agama kita A tetapi dalam data diri tidak ada, maka bisa menjadikan generasi berikutnya menjadi generasi yang minder. Karena kepercayaan yang dipercayainya tidak diakui negara,” tutupnya. [wil]

Tags: