Unair Kirim 18 Dokter dan Kapal RS Terapung ke Sulawesi Barat

RS Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) jalankan misinya untuk penangann korban gempa di Sulawesi Barat. Mereka mengirimkan 18 personel dokter untuk penanganan medis.

Bantu Tangani Korban Gempa Bumi
Surabaya, Bhirawa
Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengirimkan Tim AJU I RS Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) dalam penanganan korban gempa yang mengguncang Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat pada Kamis (14/1) dan Jumat (15/1) lalu. Dalam misi ini, Unair mengutamakan penambahan personel medis dan peralatan safety Covid-19. Rencananya, kapal RSTKA akan berangkat dari Surabaya pada Minggu (17/1) dini hari dan menunggu meredanya pasang air laut. Dan butuh waktu tiga hari untuk sampai Makassar.
Menurut Sekretaris Yayasan Ksatria Medica Airlangga (YKMA/pengelola operasional RST), Dr Suwaspodo Henry Wibowo Sp And MARS, tim yang dikomandoi Direktur RSTKA, dr Agus Hariyanto SpB, ini mengirimkan 18 dokter, yang terdiri dari dua apoteker, dua dokter bedah, dua dokter anestesi, empat dokter umum, empat perawat umum, dua perawat anastesi, dan dua perawat bedah operasi.
“Tim AJU 1 juga bekerja sama dengan IDI Jawa Timur dan IDI Surabaya. Mereka kami minta untuk hadir menggantikan fungsi RS di lokasi bencana yang sudah tidak bisa beroperasi,” ujar Henry, Minggu (17/1).
Tim AJU 1 akan mempersiapkan kebutuhan medis, logistik, dan bantuan lain selama dua minggu. Di tengah pandemi Covid 19, tim bekerja sama dengan RS Lapangan untuk memeriksa perawat terlebih dahulu. Kemudian, tim juga membawa peralatan safety Covid-19, lebih dari seribu pemeriksaan SWAB antigen, Alat Pelindung Diri (APD) Hazmat, peralatan laboratorium, masker N95, dan handsanitizer. Selain itu, juga membawa lima tenda besar ukuran 4 kali 8 meter yang dikhususkan untuk memisahkan pasien yang aman dan sebagai tempat istirahat tim. Selain itu, tim membawa bantuan logistik makanan, pakaian, dan buku untuk anak – anak di sana.
“Melihat situasinya yang darurat, tim harus segera ke sana. Kita berkoordinasi dengan Tim Bencana Kemenkes. Kapal kita diminta hadir di sana. Karena RS di sana banyak yang tidak beroperasi,” ungkap dr Henry.
Dr Henry juga menjelaskan, dengan kondisi lapangan yang belum diketahui, Tim AJU I bakal menjadi pionir medis untuk membuka jalan ke lokasi. Tak hanya itu, tim juga bertugas melakukan survei lokasi bencana dan mengumpulkan kebutuhan yang kurang di lapangan. Dari hasil survei, Tim AJU I akan berkoordinasi dengan RS Dr Soetomo dan RS Unair.
“Tim AJU I akan mensurvei kondisi lapangan, informasi tempat berlabuh kapal, dan kebutuhan apa saja yang diperlukan di sana,” katanya.

Libatkan Mahasiswa, Beru Taruma Healing
Dalam misi kali ini, tim AJU 1 akan melibatkan mahasiswa. Kehadiran mahasiswa, kata dr Henry, sangat dibutuhkan, untuk memberikan pendidikan anak – anak pesisir. Pihaknya berharap melalui misi sosial ini mendapatkan dukungan maupun bantuan semua pihak. Termasuk fakultas di Unair.
“Kita membutuhkan mahasiswa, terutama mahasiswa perikanan dan kesehatan masyarakat sebagai trauma healingnya masyarakat pesisir. Terlebih kondisi saat pandemi ini situasi untuk kapal dan tim kami berangkat berlayar masih berat. Kami akan tetap berusaha untuk sampai di sana dengan aman. Kami minta dukungan, doa, dan partisipasi dalam bentuk apapun untuk saudara kita di sana, terima kasih,” pungkas dr Henry. [ina]

Tags: