Upaya Percepatan ODF Kabupaten, Pemkab Bondowoso Kukuhkan 44 Desa

Bupati Bondowoso Drs KH Salwa Arifin didampingi Kepala Dinas Kesehatan Muhammad Imron, M.M.Kes saat menyerahkan sertifikat Desa ODF 2021. (Ihsan Kholil/Bhirawa)

Bondowoso, Bhirawa
Merupakan salah satu upaya percepatan ODF Kabupaten, yang ditargetkan di Tahun 2022 untuk Kabupaten Bondowoso ini, Pemkab setempat menyelenggarakan pengukuhan Desa ODF di Pendopo Bupati setempat, Selasa (7/12).

ODF merupakan singkatan dari Open Defecation Free atau dikenal dengan Stop Buang Air Besar Sembarangan yang adalah kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarang, pembuangan tinja yang tak memenuhi syarat sangat berpengaruh pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan.

Dalam kesempatan ini, Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam hal ini Bupati Salwa Arifin mengukuhkan sedikitnya 48 Desa dari 11 Kecamatan sebagai Desa ODF tahun 2021. Sehingga dari total desa tersebut di kota tape ini ada sebanyak 142 desa.

Bupati Bondowoso Drs KH Salwa Arifin menyampaikan jika berhasilnya desa untuk mencapai status ODF ini juga tidak lepas dari dukungan Dana Desa (DD). “Yang tentunya sebagai wujud kepedulian kepala desa terhadap kesehatan warganya di bidang kesehatan lingkungan,” ungkapnya.

Menurutnya, dari beberapa desa yang belum berstatus ODF dan untuk peningkatan kualitas ODF di masing-masing desa. Bupati Salwa berharap adanya peran serta para camat di seluruh wilayah Kabupaten Bondowoso ini.

“Peran serta seluruh camat di Bondowoso untuk terus mendukung Desa dalam penganggaran dana desa, khususnya pengelolaan jamban dan sanitasi,” harapnya.

Bupati Salwa menerangkan, bahwa Dinas Kesehatan Provinsi sudah menargetkan ODF Provinsi di Tahun 2023. Dan sampai bulan November kemarin sudah ada 20 Kabupaten/Kota yang telah berstatus ODF.

“Bondowoso termasuk 19 Kabupaten/Kota yang belum ODF, mati kita kejar. Tidak ada kata tidak mungkin untuk segera ODF, karena tidak mungkin kita menjadi satu-satunya Kabupaten yang menghambat ODF Provinsi di tahun 2023,”urainya.

Kata dia, untuk itu perlu adanya dukungan semua pihak, seperti Gesit (Gerakan Sanitasi Total) sebagai salah satu paket kebijakan dalam strategi sanitasi kabupaten, Bank Jatim dengan CSR-nya, Jajaran Kodim.

“Juga kepala desa dengan dana desanya, maupun pihak-pihak lain yang terketuk hatinya untuk peduli terhadap sanitasi di Kabupaten Bondowoso,” ujarnya.

Dijelaskannya, jika sanitasi yang layak dan ketersediaan air bersih yang cukup, dengan dukungan Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) mempunyai daya dukung yang signifikan dalam mendukung penurunan angka stunting.

Hal yang demikian kata Bupati Salwa untuk segera mengatasi masalah sanitasi di Bondowoso, sehingga tidak timbul lagi masalah-masalah kesehatan lainnya.

“Program-program yang lain juga lebih mudah diangkat, seperti kasus stunting, tatanan Kabupaten sehat, teratasinya kasus penyakit menular dan beberapa hal lain yang terkait erat dengan masalah sanitasi,” ujarnya.

Orang nomor satu di Bondowoso ini pun menghimbau kepada seluruh pihak terkait untuk bekerjasama. “Saling mendukung dalam melakukan yang terbaik bagi diri kita sendiri serta bagi orang-orang disekitar kita,” pungkasnya. [san]

Tags: