Urgensi Mengatasi Degradasi Moral Generasi Milenial

Oleh :
Ani Sri Rahayu
Dosen Civic Hukum Universitas Muhammadiyah Malang

Selama ini Indonesia dikenal bukan hanya negara yang sangat indah, namun juga dikenal dengan negara yang sangat ramah dan bermoral. Namun, kini seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi indikasi degradasi moral mulia bermunculan di tengah-tengah lini masyarakat tanpa terkecuali ditengah generasi milenial. Generasi muda tentunya memiliki peranan sangat penting bagi suatu bangsa. Karana dipundaknyalah nasib bangsa kedepannya digantungkan.
Namun pada kenyaanya kondisi saat ini justru banyak remaja atau generasi muda yang bersikap amoral yang jauh dari harapan para pendiri bangsa ini. Nah, berangkat dari indikasi itulah, melalui laman rubrik opini diharian ini penulis mencoba mencari aspek mendasar sekaligus solusi dari faktor yang melatar belakangi maraknya degradasi moral pada generasi muda saat ini.

Degradasi moral bangsa
Degradasi moral merupakan sebagian dari sekian banyak persoalan yang akan dihadapi, seiring laju perkembangan zaman. Berbagai persoalan kebangsaan sebagai wujud masih lemahnya penghayatan dan pengamalan agama secara komprehensif, di mana ajaran agama dimaknai secara sempit, tergerusnya sikap toleransi, berkembangnya paham ekstremisme, bahkan munculnya sikap dan perilaku yang mengabaikan Pancasila sebagai dasar negara.
Indikasi tersebut, semakin dapat dibuktikan bahwa dewasa ini, generasi Y atau yang lebih dikenal dengan sebutan generasi milenial dituntut menjadi agen perubahan untuk mengantarkan Indonesia menjadi negara maju. Generasi milenial ini digadang-gadang sebagai penerus tonggak kepemimpinan bangsa ini. Begitu besar harapan bangsa ini kepada mereka. Namun, jika tercermati dengan seksama terdapat satu permasalahan yang terindikasikan menjadi faktor penyebab generasi milenial tidak dapat mewujudkan cita-cita bangsa tersebut, yakni adanya degradasi moral.
Padahal dahulu bangsa Indonesia dikenal karena moral rakyatnya yang berbudi pekerti luhur, santun dan beragama. Sayang citra baik ini mulai terkikis. Padahal, perlu diingat modal kemajuan suatu bangsa sangat perlu didukung generasi yang cerdas, bijak dan bermoral. Namun akhir-akhir ini, justru gejala kemerosotan moral benar-benar mengkhawatirkan. Masalah ini bukan hanya menimpa kalangan orang dewasa dalam berbagai jabatan dan profesinya, melainkan juga telah menimpa kalangan pelajar yang diharapkan dapat melanjutkan perjuangan bangsa.
Kondisi tersebut, malah berpotensi makin parah ketika pendidikan Pancasila dihapuskan dari mata pelajaran pokok dalam dunia pendidikan, dan pemaknaan Pancasila yang secara logika diserahkan pada mekanisme ‘pasar bebas’. Peluang tersebut justru menyebabkan absennya negara dalam pembinaan mental ideologi bangsa. Tercermin pada publikasi berbagai hasil survei yang dilakukan pada tahun 2018, di mana 63 persen guru memiliki opini intoleran terhadap agama lain, 3 persen anggota TNI terpapar paham ekstremisme, 19,4 persen PNS atau ASN tidak setuju Pancasila, dan 7 kampus terindikasi terpapar ekstremisme agama.
Gambaran di atas semakin menegaskan bahwa pendidikan karakter bangsa sangatlah penting dilakukan secara intens, masif, dan berkesinambungan yang selaras dengan Tap MPR Nomor VI Tahun 2001 tentang etika kehidupan berbangsa dan bernegara jadi ada rekomendasi dari MPR untuk Presiden, Lembaga Negara, dan seluruh masyarakat Indonesia untuk melaksanakan Tap ini sebagai pedoman untuk kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai upaya mencegah degradasi moral bangsa.

Mengatasi kerusakan moral
Masalah-masalah moral kini telah menjadi persoalan yang banyak menyita perhatian dari banyak kalangan, terutama dari pendidik, alim ulama, tokoh masyarakat, dan orang tua. Meskipun telah banyak usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah moral, namun hasilnya masih belum menggembirakan. Moralitas yang ada justru sangat jauh dari nilai-nilai normatif yang selama ini dijunjung tinggi.
Oleh karena itu, pendidikan karakter bangsa meski perlu terus digencarkan sekaligus dicanangkan agar dapat menata kompetensi moral generasi milenial. Karena dengan moral dan perilaku yang apik, maka dapat menciptakan insan-insan luhur yang pantas menjadi penerus generasi bangsa di masa yang akan datang. Selebihnya, berikut inilah kontribusi ulasan dari penulis dalam upaya mengatasi kerusakan moral khususnya pada generasi Y atau yang lebih dikenal dengan sebutan generasi milenial.
Pertama, memantapkan pondasi benteng keluarga dari informasi dan pengaruh negatif. Untuk itu, keluarga meski mampu menjadi benteng utama serta pondasi yang kokoh melindungi generasi penerus bangsa dari kerusakan moral di dalam keluarga. Pendidikan keluarga menjadi pilihan yang ideal karena keluarga adalah sekolah sesungguhnya.
Kedua, menanamkan pendidikan karakter sejak dini. Masa remaja adalah masa dimana seseorang sedang mencari jati dari diri mereka. Maka dari itu, pendidikan dan pemahaman sangat penting untuk diajarkan dan ditanamkan ke dalam diri mereka. pendidikan dan pemahaman yang baik tentu akan membawa mereka ke alam hal yang positif dan begitu pula sebaliknya.
Ketiga, pemerintah sebagai penentu kebijakan negeri idealnya dapat berperan dalam melindungi masyarakat dari upaya perusakan moral yang sangat massif di tengah-tengah masyarakat. Pemerintah harus dapat menegakkan hukum dengan memberikan sanksi yang berat dan adil bagi pelanggarnya. Pelarangan terhadap pornografi dan pornoaksi, pelarangan terhadap perilaku seks menyimpang, miras, tawuran pelajar, perang terhadap judi dan narkoba, pemberantasan premanisme, pemberantasan korupsi, dan sebagainya harus terus berlanjut dan semakin ditingkatkan.
Keempat, meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan hal yang sangat penting sebagai solusi karena sesuatu apapun yang dilandasi dengan iman dan taqwa tidak akan mengarah ke hal-hal yang negatif. Dengan mengingat dan menyadari diri diawasi Tuhan, maka akan meningkatkan tingkat kesadaran mereka dalam melakukan berbagai hal.
Berangkat dari keempat solusi sekaligus upaya mengatasi kerusakan moral khususnya pada generasi Y atau yang lebih dikenal dengan sebutan generasi milenial tersebut di atas besar kemungkinan jika bisa diterima dan diimplentasikan secara kooperatif di tengah-tengah masyarakat dan generasi milenial khususnya maka negeri ini akan terhidar dari ancaman nyata kerusakan moral bangsa.

————– *** —————-

Tags: