Usia Diatas 50 Tahun, Guru Tak Harus Sarjana

guru madrasahDindik Surabaya, Bhirawa
Para guru di Surabaya yang usianya sudah diatas 50 tahun tampaknya lebih memilih untuk menunggu pensiun dari pada harus mengejar sarjana S1. Hal ini juga dikuatkan dengan kelonggaran pemerintah bagi guru di usia senja itu tetap bisa mengikuti sertifikasi.
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya Ikhsan menuturkan, mayoritas guru yang belum S-1 usianya telah berada diatas 50 tahun. Selebihnya, mereka tengah menjalani masa belajar di sejumlah perguruan tinggi.
Pada kesempatan kemarin Ikhsan membantah, jumlah guru yang belum S-1 sebanyak lebih dari tujuh ribu orang. Sebab, menurut data Dindik Surabaya, guru dengan kualifikasi hanya sekitar 1.343 orang.
Rinciannya, 479 guru dengan status pegawai negeri sipil (PNS), sisanya 864 guru non-PNS. Sementara total guru di Surabaya mulai jenjang SD-SMP – SMA/SMK negeri dan swasta sebanyak 20.847. Rincianya, 11.224 guru non PNS, 9.374 PNS dan 249 guru DPk.
Ikhsan mengatakan, guru yang belum S1 dibagi menjadi dua kategori usia. Guru yang berusia di atas 50 tahun dan yang di bawah 50 tahun. Karena terdapat kebijakan pusat yeng tetap membolehkan guru berusia di atas 50 tahun mengajar dan menerima tunjangan sertifikasi guru, maka guru ini tidak diprioritaskan untuk mengejar gelar S1. “Takutnya nanti kejar-kejaran dengan usia pensiun guru itu,” kata dia, Rabu (6/1).
Ikhsan menjelaskan, jumlah guru PNS yang belum S1 dengan usia di atas 50 tahun sekitar 254 orang. 225 orang guru PNS lainnya berusia di bawah 50 tahun. Untuk guru non-PNS belum bergelar S1 dengan usia di atas 50 tahun berjumlah 365. Artinya, total yang berusia di atas 50 tahun terdapat 619 guru di Surabaya.
Ikhsan menyebut jumlah guru yang belum S1 dapat berkurang dari angka 1.343. Saat ini sebanyak 443 guru sedang menempuh pendidikan S1 PGSD di Universitas Terbuka (UT). Belum termasuk yang kuliah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya. Tiga kampus itu yang biasanya dipakai guru Surabaya untuk kuliah. “Tapi baru data di UT yang masuk ke Dispendik,” ujarnya.
Mantan Kepala Bapemas KB Surabaya ini mengatakan, guru yang belum S1 tidak mempengaruhi kualitas pendidikan di Kota Pahlawan. Pasalnya, pihaknya memiliki program Pemetaan dan Penguatan Kompetensi Guru Surabaya (P2KGS). Melalui program itu, semua kompetensi guru dipetakan. Bila ada kekurangan, maka bisa diketahui dan Dispendik Surabaya akan memberi pelatihan.
“Pendampingan bisa lewat Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), juga dari perguruan tinggi yang ditunjuk Dispendik,” kata Ikhsan. Lewat P2KGS, dia menjamin kualitas guru di Surabaya mampu ditingkatkan.
Kepala Bidang Ketenagaan Dispendik Surabaya Yusuf Masruh menambahkan, guru yang belum S1 paling banyak berada di jenjang SD. Dari total 1.343 guru, sebanyak 916 merupakan guru SD. Disusul SMP dengan 218 guru. Sisanya tersebar di SMA dan SMK. Meski demikian, lanjut Yusuf, guru-guru di Surabaya yang sudah memenuhi kualifikasi pendidikan jumlahnya jauh lebih besar dari total guru yang belum memenuhi kualifikasi. [tam]

Tags: