Vaksin AstraZeneca Jadi Rebutan Negara Islam

Menkes Budi Gunadi Sadikin menyaksikan vaksinasi pada 100 kiai Nahdlatul Ulama di Kantor PWNU Jatim, Selasa (23/3).

Menkes Targetkan 181,5 Juta Dosis Vaksin Disuntikan
Surabaya, Bhirawa
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut Vaksin AstraZeneca menjadi rebutan negara-negara dengan mayoritas islam. Hal itu disampaikan dalam vaksinasi pada 100 kiai Nahdlatul Ulama (NU) di Kantor PWNU Jatim, Selasa (23/3).
Penyuntikan vaksin AstraZeneca pada kiai sepuh ini pun disaksikan langsung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF. “Memang seluruh dunia sudah menyampaikan bahwa vaksin ini (AstraZeneca, red) sangat bermanfaat untuk melindungi manusia. Semua negara Islam menyebut bahwa vaksin ini aman dan halal untuk dipakai,” ungkapnya.
Menkes Budi menjelaskan, pihaknya bisa dapat vaksin untuk 181,5 juta rakyat Indonesia. Atau sekitar 360 juta lebih dosis. Ia menyebut kalau vaksin AstraZeneca menjadi rebutan seluruh dunia. “Nah, sekarang isunya adalah begitu kita dapat, dapatnya gak bisa milih-milih karena rebutan seluruh dunia. 5,5 miliar manusia butuh 11 miliar vaksin. Karena kapasitas produksinya 3 sampai 4 miliar dalam setahun. Kelihatan banget kan rebutannya,” terangnya.
Ia berharap AstraZeneca bisa langsung divaksinkan dalam waktu 12 bulan sesuai arahan Presiden RI untuk 181,5 juta rakyat. “Semua negara Islam menyatakan vaksin ini aman dan halal untuk dipakai. Jadi, dimata kami perlu sekali keyakinan rakyat karena 181,5 juta rakyat kita terlindungi dengan semua vaksin yang ada. Apalagi AstraZeneca ini lebih dari 100 juta yang akan kita peroleh,” paparnya.
Pada kesempatan sama, Wakil Rois Syuriah PWNU Jatim, KH Anwar Iskandar mengatakan bahwa vaksinasi ini dilakukan oleh para Kiai sepuh dengan usia diatas 65 tahun. “Bagi Kiai sepuh yang usianya diatas 60-70 tahun ternyata sehat-sehat saja. Sehingga tidak perlu ada kekhawatiran bagi siapapun untuk menjalankan vaksin ini,” ujarnya.
Karena vaksinasi ini, lanjut dia, bagian dari upaya pemerintah Indonesia untuk menjaga kesehatan dan keselamatan jiwa. Apalagi, korban dari ganasnya Corona lebih besar dari perang dunia I maupun ke II. “Korban dari Corona lebih besar dari perang dunia I maupun ke II. Sehingga kami mengambil keputusan di Jatim ini bahwa bagi umat islam khususnya warga NU melaksanakan dan menjalankan vaksinasi ini adalah wajib hukumnya. Karena menjaga keselamatan jiwa itu adalah bagian dari kewajiban” paparnya.
Sementara itu saat berkunjung melihat vaksinasi di Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kota Kediri, Menkes Budi Gunadi Sadikin menargetkan sebanyak 181,5 Juta dosis vaksin Astrazeneca disuntikkan hingga akhir tahun 2021.
Dia menjelaskan sejak Januari dan Februari sudah 3 Juta, dan hingga masuk ke tahap 2, sampai bulan juni rencananya itu 38 Juta dosis, ” Kenapa hanya segitu karena persediaannya memang masih segitu,” jelas Menkes, Selasa (23 /3).
Dia juga menagatakan, Indonesia termasuk Negara yang beruntung karena mendapatkan jatah vaksin Astrazeneca sedangkan beberapa Negara hingga saat ini masih berebut untuk itu. “Vaksin ini diseluruh dunia rebutan kita beruntung, Astrazeneca yang ini kita beruntung karena gratis dibantu sama Unicef sama WHO,” katanya.
Juru Bicara Pondok Pesantren Lirboyo, KH Oing Abdul Muid mengatakan, pihak Pondok Pesantren Lirboyo telah menghalalkan Vaksin Astrazeneca ini. Hal tersebut berdasarkan keputusan Batsul Masail NU yang menghalalkan vaksin disuntik untuk masyarakat. “Memang sempat ada simpang siur terkait ini, namun hakim batsul masail telah mengeluarkan fatwa terkait ini dan memutuskan bahwa vaksin astra Zeneca halal untuk dipakai,” katanya.
Gus Muid menambahkan, di Pesantren Lirboyo sesuai rencana seluruh santri yang berusia diatas 18 tahun akan mendapatkan vaksin semua. “Alhamdulillah Pak menteri sudah menjanjikan untuk santri diatas 18 tahun dan akan divaksin semua secepatnya. Liboyo santrinya ada 35 ribu dan yang diatas 18 tahun diperkirakan ada 20 ribuan,” pungkasnya. [geh.van]

Tags: