Vaksin Covid-19; Wujud Kehadiran Negara

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya

Saat ini dunia mengalami pandemic fatigue dimana masyarakat dan pemerintah berbagai negara mengalami capek dan kedodoran dengan penyebaran Covid-19 yang kian meluas dan cenderung makin kompleks terutama terjadinya mutasi strain virus baru sehingga membutuhkan penanganan yang kian tidak mudah. Kondisi tersebut bukan hanya menguras tenaga dan waktu, tetapi juga merestriksi kehidupan sosial dan penghasilan. Oleh karena itu, pada tahun 2021 tren pandemi di Indonesia juga akan mengikuti tren dunia. Kehadiran vaksin sebagai salah satu juru selamat untuk keluar dari bencana global non alam. Meski tidak langsung kembali seperti sedia kala namun keberadaan vaksin tentu akan memberikan imunitas atau kekebalan komunitas (herd immunity) di masyarakat. Diharapkan keberadaan vaksin sebagai game changer atau sesuatu yang dapat mengubah atau membalikkan kondisi saat ini minimal mampu memberikan warna dalam rangka upaya untuk mengendalikan penularan seefektif mungkin.

Meski angka efikasi (daya kemanjuran) sebesar 65,3 persen dari hasil uji klinis namun hal tersebut tidak menghalangi upaya pemerintah untuk membentuk herd immunity di masyarakat dimana herd immunity akan tercapai jika angka penularan terus menurun. Selain itu angka efikasi setidaknya telah memenuhi standar efikasi vaksin yang ditetapkan oleh WHO, FDA (Food and Drug Administration) di Amerika Serikat, maupun European Medicines Agency (EMA) di Eropa yakni 50 persen. Vaksin merupakan upaya negara secara massal untuk melindungi warganya dengan cara membentuk kekebalan komunitas. Setidaknya pemerintah telah mengadakan vaksin melalui empat produksen vaksin yakni Sinovac (China), Novavax (Amerika-Kanada), AstraZeneca (Inggris) dan Pfizer-BioNTech (Jerman-Amerika). Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan vaksin di Indonesia. Saat ini semua negara berlomba-lomba untuk memperoleh vaksin untuk melindungi warga negaranya dari serangan virus korona yang kian masif.

Keberadaan vaksin merupakan salah satu wujud kedaulatan dan kebanggaan bangsa serta wujud ikhtiyar rasional bahwa negara hadir untuk melindungi dan menyelamatkan warga negaranya dari dampak maut Covid-19. Saat ini lebih dari 160 bahan vaksin Covid-19 di dunia dimana setiap negara berupaya untuk memproduksi sendiri embrio vaksin termasuk Indonesia tengah mengintensifikan bahan vaksin yang masih dalam proses uji klinis dengan Vaksin Merah Putih. Diharapkan akhir tahun 2021 telah dapat diproduksi dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Adalah kebanggaan suatu negara bila produknya mampu dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat dunia. Eksistensi riset, laboratorium dan kecanggihan teknologi pervaksinan diuji saat pandemi.

Berbicara tentang vaksin, bukan sekedar aspek penyediaan atau melakukan pengadaan vaksin dengan kata lain mengamankan stok vaksin namun lebih dari itu, sistem dan tata kelola vaksin mengacu pada standar internasional serta data yang terintegrasi dan mumpuni. Upaya penyediaan fasilitas pendingin untuk menyimpan dan mendistribusikan vaksin. Spesifik vaksin virus corona harus terus.menerus disimpan dalam pendinginan steril agar kualitasnya tetap terjaga. Saat ini tidak semua negara mampu menyediakan rantai dingin untuk distribusi vaksin virus corona, apalagi bukan negara kaya. Vaksin ini harus disimpan dalam cool room dengan suhu 2-8 derajat celcius seperti Sinovac, bahkan untuk vaksin jenis Pfizer-BioNTech membutuhkan suhu yang sangat dingin hingga minus 70 derajat Celsius. Jika diterapkan di Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan luas serta kondisi keterbatasan fasilitas pendingin di wilayah-wilayah perbatasan dan terpencil. Selain itu dibutuhkan pelatihan teknis bagi tenaga kesehatan sebelum kegiatan vaksinasi secara massal dilakukan. Kondisi ini merupakan tantangan bagaimana yang nantinya mampu menjalankan program vaksinasi secara efektif.

Potensi hambatan lain yang tak kalah krusial adalah tidak sedikit masyarakat yang menolak divaksinasi. Menurut hasil SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) yang dirilis 22 Desember 2020 menyebutkan bahwa terdapat 23 persen masyarakat yang tidak percaya, 21 persen tidak bersikap dan 56 persen yang percaya keamanan vaksin dalam menangkal Covid-19. Selain itu hasil Survei Populi pada 19 Desember 2020 dirilis 40 persen masyarakat menolak vaksin. Hal ini merupakan membutuhkan penguatan manajemen komunikasi publik yang memadai dan komprehensif. Setidaknya pemerintah secara paralel menjalankan program vaksinasi serta menjelaskan risiko terinfeksi virus, keuntungan vaksin dan efek sampingnya secara masif. Hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar dan terbuka. Oleh sebab itu, akses informasi terkait vaksinasi covid-19 harus dibuka secara terang benderang, jangan ada yang ditutupi. Pendekatan edukasi dan persuasi hendaknya lebih diutamakan di atas pendekatan prosekusi (dipaksakan) dan penindakan hukum. Substansi program vaksinasi juga dibangun melalui alur logika sebagai bagian dari produk manajemen informasi publik.

Sistem check dan recheck yang terkadang tidak dilakukan dengan objektif, tetapi mengandalkan instuisi dengan menyandarkan realitas aspek nilai-nilai subjektivitas yang timbul. Artinya bisa jadi sebuah informasi yang sejalan dengan pemikirannya yang terkadang dianggap sebagai kebenaran (justifikasi oriented). Logika berpikir instan ditengarai menjadi sumber terciptanya hoaks yang sementara ini marak berkembang di masyarakat. Hal inilah hal yang perlu segera ditangkal (contra information), khususnya yang terkait dengan program vaksinasi nasional. Masyarakat perlu memperoleh informasi yang komprehensif, sederhana agar mudah dipahami. Tak cukup hanya dengan mengatakan bahwa program ini merupakan sebuah kewajiban dan lebih bersifat prosekusi. Dengan kemajuan dunia informasi berbasis digital, masyarakat perlu diyakinkan untuk melihat setiap kebijakan dari sisi logika yang sarat ilmu melalui serangkaian pendidikan literasi secara simpel dan bijak. Sebab momentum vaksinasi merupakan salah satu tahap awal upaya mengendalikan pandemi dan memutus rantai penyebaran Covid-19 yang ditandai dengan penurunan angka penularan dengan mencegah kejadian infeksi baru.

———– *** ————-

Tags: