Wacana Pembelajaran (tak) Berjarak

Oleh :
Moh Rofqil Bazikh
Alumni PP.Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep. Menulis puisi, cerpen, dan esaai yang sudah tersebar di berbagai media dan bunga rampai. Kini sedang merantau di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dahulu pada awal pembelajaran, yang terlintas pertama kali di benak seorang guru barangkali adalah bagaimana materi dan sebuah teori itu sampai. Kemudian berpindah bagaimana cara penyampaian bisa lebih efektif dan benar-benar masyuk di kepala murid. Pembelajaran yang terikat dan lebih menuhankan pada kurikulum. Sehingga sebuah teori benar-benar disampaikan sesuai regulasi yang bergulir absolut. Meski belakangan setelah dilakukan evaluasi akan merembet pada proses inovasi.

Diperkenalkan sebuah kelas mencakup proses penyampaian sebuah materi meski tidak terang-terangan menjenuhkan. Keterikatan pada regulasi kurikulum tidak menghalangi pengajar untuk memasukkan hal-hal baru. Di sela-sela itu, proses inovasi seorang pengajar(baca; guru) seakan berkembang pesat. Oleh kenyataan dan realitas yang dihadapi itulah yang sangat memicu perkembangan sebuah metode belajar.

Belajar sendiri, sering diamini sebagai suatu proses pembacaan berita. Itulah sebabnya, pokok-pokok yang semestinya diduplikat dari teori dan aplikatif jarang timbul ke permukaan. Betapa suatu pekerjaan harus diserahkan pada yang tidak begitu ahli, lalu dikesampingkan yang benar ahli. Mungkin karena beberapa alasan, salah satunya jeritan ekonomi. Yang mau tidak mau pendapat dari proses belajar-mengajar tidak pernah menjamin. Sementara kebutuhan baik yang primer dan sekunder lebih-lebih yang tersier semakin menanjak.

Pikiran orang-orang terpelajar masih jauh nilai-nilai akademisi, pikiran yang cenderung mengedepankan materialis justru menjungkir-balikkan keadaan. Implikasinya, proses belajar-mengajar mulai jauh dari regulasi kurikulum sekolah. Pengajar lebih dan mulai mementingkan kesibukan di rumah daripada di sekolah.

Di sini, inovasi dan kecerdikan atau kelicikan dimulai. Di lembaga swasta yang rata-rata pengajar honorer bisa saja dan memang begitu; memulangkan siswa lebih awal dari semstinya. Lagi-lagi ini didorong oleh eksistensi dan krisis individualitas. Kesibukan dan pekerjaan yang belum selesai di rumah sudah mulai menghantui sampai ke sekolah.

Kalau si pengajar sedikit religius, barangkali akan berkilah perihal keikhlasan dan pengabdian. Ini masih mending dan patut diapresiasi. Meski kadang racauan-racauan kecil muncul dari hati paling dalam. Itu sudah manusiawi sekali, tidak ada yang bisa menyangkalnya. Lebih dari itu, menjadikan anak didik juga adalah prioritas yang tak kalah penting.

Kepercayaan dari orang tua meski tidak mutlak pada pengajar adalah suatu tanggung jawab yang selain berat juga sangat besar. Pengajar yang bisa mengesampingkan urusan-ursan yang bersifat personal memang patut diharapkan kehadirannya di sini. Di tengah-tengah pengajar yang condong pada tuntutan materialis dan ekonomi.

Di tengah pandemi, kewajiban dan keberlangsungan belajar-mengajar tetap dituntut ada dengan cara apa pun. Baik di dalam kelas atau dengan aplikasi yang sudah bisa diakses dan tersedia lewat daring. Kabar baiknya, ketika pembelajaran dilangsungkan dari rumah masing-masing orang tua juga sedikt banyak memiliki andik dalam proses pembelajaran. Yang semula hanya bisa mengharapkan hasil, pelan-pelan juga harus turun tangan.

Hakikatnya memang, orang tua harus punya andil dan peran yang nyata dalam proses pembelajaran. Sehingga pembelajaran berjarak secara tidak langusung memberikan keberkahan tersendiri. Meski metode tersebut masih terdapat minus di sana-sini. Dan keberadaannya tidak lantas diamini untuk berlangsung dalam tempo yang lama. Seolah-olah kemudian pembelajaran terlihat lebih efektif, senyatanya tidak. Sebab sampainya sebuah materi dan masuknya di kepala pelajar sangat dipertimbangkan dan dipertanyakan dengan serius.

Lagi-lagi untuk menghindari sebuah materi dan teori hanya jadi berita atau ceramah-ceramah seperti kaum agamawan. Itu sama sekali tidak bisa merubah apa-apa dan peradaban tetap dibiarkan ompong. Hingga problem itu dibiarkan berlanjut sedemikian lama tanpa ada evaluasi orang-orang yang bersangkutan.

Di pandemi begini, keharusan memeras otak lebih dari biasanya adalah sebuah keharusan. Metode-metode dan formula baru harus ditampakkan ke permukaan, di ranah pembelejaran sekalipun. Belajar sebagai proses memanusiakan manusia, harus tetap berlanjut selama keadaan masih mungkin mendukung, meski dengan cara-cara yang tidak mengenakkan. Dan pembelajaran berjarakan adalah satu-satunya opsi selain libur panjang.

Beberapa bulan terkahir, metode pembelajaran berjarak sudah diterapkan. Sekian keluhan yang dilemparkan oleh pelajar pada umunya semakin lantang. Keluhan karena biaya untuk membeli paket sampai keluhan tugas yang semakin menumpuk. Bagi pengajar, itu juga bukan sesuatu yang menguntungkan. Kesibukan akan semakin bertambah meski proses pembelajaran dikerjakan dari rumah. Sejauh ini, pembelajaran tatap muka masih idaman semua.

Baru-baru ini, menteri pendidikan Nadiem Makarim melontarkan pendapat untuk mempermanenkan pembelajaran berjarak setelah pandemi. Itu bukan kesalahan, tetapi perlu ada pertimbangan yang memang matang. Selain banyak minus di sisi pembelajaran berjarak selama ini, sisi lain kendala di untuk pelajar dinberbagai tingkatan. Iru terbukti ketika salah seorang pengajar, Avan Fathurrahaman harus mendatangi rumah anak didiknya satu-stau karena keterbatasan sarana seperti ponsel yang jadi bahan utama pembelajaran.

Sejauh ini Nadiem memang seperti menuhkan teknologi, meski adaptasi terhadap teknologi adakah keharusan liyan. Dampak dari teknologi sudah masuk ke berbagai aspek dari masyarakat. Makanya adaptasi di lingkungan pendidikan adalah sebuah kewajaran. Begitu kira-kira yang ada di kepala Nadiem.

Namun, apakah Nadiem sudah melakukan kajian sebelum melemparkan pernyataannya. Itu adalah sebuah sanggahan besar dari kami sebagai pelajar. Kami yang hidup jauh dari hiruk-piruk kota, merasakan kesulitan akses dan sarana dalam metode tersebut. Meski tidak akan terjadi penolakan massal di kalangan pelajar, tetapi kebijakan demi kebijakan harus tetap diperhitungkan.

Jaringan untuk ponsel yang tidak begitu bagus, barangkali kendala utama bagi yang sudah memiliki ponsel. Bagi yang tidak memilik karena keterbatasan ekonomi itu seperti pisau yang tajam atas bawah. Sebuah kesulitan ganda yang terang-terangan menimpa, selain persoalan-persoalan lain yang memng urgen untuk dibahas dan dicarikan solusi lebih lanjut. Kedua, interaksi emosional antara pembelajaran langsung dan berjarak memang berbeda, ini mempengaruhi terhadap sampainya suatu materi dan teori sebagai materi yang sungguhan dan jauh dari cap hanya sebagai berita yang dibacakan.

Akhirnya di tengah keterpaksaan macam apa pun, pembeljaran harus tetap berlanjut. Dan dalam metodenya harus dirembuk kembali, kalau situasi memang tidak begitu memungkinkan. Agar tidak ada pihak yang sangat-sangat dirugikan. Dan tetap dalam jalan membangun perdaban.

————- *** —————

Rate this article!
Tags: