Wajah Asli Kita di Media Sosial

NurudinOleh :
Nurudin
Penulis adalah dosen Fisip Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); penulis buku “Media Sosial Baru dan Munculnya Revolusi Proses Komunikasi”

Orang Indonesia itu kebanyakan santun jika dilihat secara sekilas. Untuk mengetahui sifat asli orang Indonesia, hadapkanlah mereka dengan sebuah persoalan rumit. Salah satunya adalah menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres). Sifat orang asli Indonesia sangat kelihatan sekali menjelang Pemilu, jauh dari sifat yang dikenal dalam buku literatur yang selama ini ada.
Untuk melihat sifat asli mereka tidak usah ditanya siapa yang akan dipilih menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Kita cukup melihat tulisan status-status mereka di media sosial (Facebook dan Twitter), foto apa yang dipasang, bagaimana cara mereka menyebar atau mengomentari sebuah tautan/link. Meskipun belum bisa dijadikan ukuran valid, setidaknya sifat aslinya muncul lewat media sosial tersebut.
Alasan
Pada tahun 70-an, jurnalis dan sastrawan Indonesia, Mochtar Lubis pernah juga membuat beberapa ciri orang Indonesia antara lain; (1) munafik, hipokrit, (2) lempar batu sembunyi tantan, (3) feodal, (4) suka hantu, paranormal, filsafat, (5) punya jiwa seni, (6) boros, senang berutang, senang pesta, (7) kurang gigih, (8) gemar jalan pintas, (9) suka iri dengki, menggerutu, (10) mengaku bahwa dia yang berjasa, ikut-ikutan, (11) sombong, (12) baik hati, ramah, gotong royong, suka damai, bisa tertawa dalam penderitaan. Meskipun ciri-ciri itu banyak yang protes, namun demikian sangat melekat pada orang Indonesia.
Bagaimana dengan ciri-ciri manusia Indonesia sekarang? Tidak mudah  untuk menunjukkan kriteria untuk tak mengatakan sulit. Tentu ciri ini tidak dilakukan berdasar survei dengan metodologi yang ketat, namun sebatas pengamatan. Itu pun masih bisa diperdebatkan.  Paling tidak pengamatan tersebut berdasar perilaku mereka di media sosial menjelang Pilpres.
Mengapa media sosial? Media sosial itu seperti catatan harian (diary).  Sebagai catatan harian, media sosial berfungsi sebagai penyalur uneg-uneg, keluh kesah, kritik, komentar, harapan, cacian dan banyak hal berkaitan dengan tempat penyaluran yang lain. Sebagaimana buku harian, seseorang bebas menulis apa saja.
Orang yang kelihatan santun di permukaan, bisa jadi aslinya kurang ajar yang tercermin  dari apa yang dilakukanya di media sosial itu. Sama dengan buku harian, watak asli orang bisa dilihat dari buku harian yang disebut media sosial tersebut.
Bisa jadi analogi saya di atas salah. Tetapi, media sosial tetap bisa mencerminkan kepribadian seseorang. Bisa jadi media sosial itu media publik, tetapi tidak semua user (pengguna) media sosial paham bahwa itu media publik. Jika Anda aktivis media sosial, akan membaca pesan, gambar atau tautan dimana orang sering menyumpah serapah, marah-marah atau kena sindir sedikit mengamuk. Bisa jadi itulah watak aslinya, meskipun dalam keseharian tidak begitu. Orang bisa santun, tetapi apa yang kita tulis di media sosial bisa mencerminkan sebeliknya.
Menjelang Pilpres
Sekarang coba diamati apa yang muncul di berada FB atau Twitter Anda. Lihatlah betapa caci maki, kampanye hitam, membela dengan membabi buta sampai di luar batas kewajaran muncul silih berganti. Seolah Capres-Cawapres pilihannya saja yang hebat, sementara pasangan lain tidak ada artinya, dan kalau perlu dilenyapkan dengan berbagai cara, termasuk mewacanakan kampanye hitam.
Mengunggah tulisan dan gambar berkaitan dengan hal positif Capres pilihannya tidak salah, namun membabi buta menyudutkan pasangan yang tidak disukai tentu tidak elok. Orang yang dahulunya santun, tiba-tiba beringas karena membela Capres. Entah membela dan memilihnya saat pencoblosan nanti atau sekadar mengungkapkan kekecewaannya pada pendukung Capres lain.
Misalnya begini, ada pengguna media sosial yang awalnya menyikapi berbagai tulisan, gambar dan tautan berita biasa saja. Namun demikian, karena banyak pendukung pasangan calon yang “gila” dengan membela membabi buta, ia jadi tertantang untuk menandinginya. Jadinya, orang “gila” dilawan, akhirnya ia ikut gila juga. Tidak saja mereka yang berpredikat ustadz, tetapi juga yang berpendidikan tinggi pun.
Saya pernah bilang kepada teman-teman saya. Tidak usah menuruti syahwat menanggapi  perilaku pendukung yang membabi buta itu. Kita harus menunjukkan bahwa orang yang berpendidikan itu berbeda, seorang ustadz juga tidak boleh ikut-ikutan jamaahnya yang secara membabi buta berperilaku “gila”.  Ia justru perlu menunjukkan secara bijak perilaku mereka yang didukung syahwat politik itu.
Namanya syahwat, teman yang awalnya sabar dan biasa memaca status, gambar, dan tautan berita itu akhirnya terpancing. Alasanya, “Saya cuma tidak ingin pendukung pasangan itu seenaknya saja”. Jadi, awalnya ia bersika netral dalam soal Pilpres, tetapi hanyut mendukung Capres tertentu lantaran terbawa nafsu syahwat. Banyaknya komentar negatif atau kampanye hitam Capres tertentu sebenarnya harapan besar atau justru ketakutan saja kalau Capres yang tidak didukungnya akhirnya yang lolos.
Apakah itu watak asli orang Indonesia? Belum bisa disimpulkan begitu. Namun demikian, watak dalam media sosial bisa dijadikan salah satu tolok ukur watak asli. Watak asli seseorang akan muncul jika dihadapkan pada sebuah kasus yang pelik. Analoginya, orang bisa disebut sabar jika ada musibah yang menimpanya, tetapi ia tetap sabar. Ketika ia tidak terkena musibah tentu saja ia mudah bersikap sabar, bukan?
Artinya, seseorang bisa dianggap bijak, tidak punya syahwat politik tinggi jika dihadapkan bahwa temana-temannya yang mendukung Capres tertentu membuat ia tidak kehilangan kendali. Jika ia ikut hanyut pada hiruk pikuk itu, bisa dikatakan jangan-jangan wakat aslinya memang seperti itu. Orang bisa menyembunyikan kepribadiannya, tetapi Pilpres telah menunjukkan watak, sifat, aspirasi, dan ambisi asli seseorang dalam politik.
Kepribadian Ganda
Orang yang kesehariannya menunjukkan sikap berbeda dengan apa yang dia lakukan di media sosial bisa disebut dengan social splitting personality (Erik Qualman, 2010). Mereka inilah pelaku-pelaku yang dapat disebut mengalami perpecahan kepribadian di media sosial.
Media sosial  mampu menyebarkan pesan-pesan secara cepat, tetapi media sosial telah menunjukkan tabir siapa diri kita dalam bersikap dan menyikapi keadaan. Apa yang ditampilkan dalam media sosial menunjukkan siapa diri  kita sesungguhnya. Bijak  menggunakan media sosial adalah pilihan bijak, ikut-ikutan saja itu tindakan yang tidak  cerdas.

—————- *** —————-

Rate this article!
Tags: