Wali Kota Batu Minta Petani Tinggalkan Pupuk Kimia

Batu, Bhirawa
Para petani di Kota Batu, Jatim diminta meninggalkan pola pertanian yang menggunakan pupuk kimia dan beralih ke pupuk organik atau Go Organic. Agar program itu bisa berjalan Pemkot Batu akan melakukan revitalisasi dengan anggaran Rp8 miliar.
Upaya lain yang dilakukan oleh Pemkot Batu adalah dengan memberikan subsidi Rp1 juta per bulan bagi para petani yang menggunakan pupuk organik dan tidak memakai pupuk kimia.
“Untuk mengubah pola pertanian dengan pupuk kimia menuju organik ini memang tidak mudah dan membutuhkan waktu cukup panjang. Paling tidak sekitar lima tahun petani bisa mengurangi ketergantungannya terhadap pupuk kimia ini,” kata Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, Senin (17/3).
Hanya saja, tegas Eddy, petani harus memulainya dari sekarang untuk mengembalikan kesuburan tanah dan diyakininya pendapatan petani yang beralih ke pertanian organik juga akan meningkat.
Lahan pertanian di Kota Batu yang menjadi bidikan Program Go Organic dan revitalisasi lahan seluas 5.000 hektare, mulai lahan pertanian apel, padi, perkebunan sayur-sayuran serta bunga.
Upaya untuk mengembalikan kesuburan lahan melalui pertanian organik tersebut dimulai tahun 2012 dan program tersebut dimantapkan kembali dengan mengusung jargon “Pertanian Organik Yes dan Petani Organik Hebat”.
Saat ini, sudah ada 225 petani yang mulai menggunakan pupuk organik untuk lahan pertaniannya. Untuk memberikan subsidi bagi para petani organik tersebut, Pemkot Batu mengeluarkan anggaran sebesar Rp225 juta per bulan atau sebesar Rp1 juta per petani.
Menurut Eddy, bantuan atau subsidi sebesar Rp1 juta per pertani/bulan tersebut merupakan insentif agar para petani mulai memikirkan masa depan lahannya karena sekarang kondisinya mulai rusak akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.
Salah seorang petani apel di wilayah Bumiaji, Kota Batu Isnaningsih mengakui biaya produksi dengan menggunakan pupuk organik lebih murah. “Secara bertahap kami sudah mulai mengurangi pupuk kimia, apalagi ongkos produksinya juga lebih murah,” ucapnya.
Hampir seluruh petani yang ada di Bumiaji dengan luas lahan sekitar 70 hektare, kata Isna, sudah mulai menggunakan pupuk organik. Namun, juga masih menggunakan pupuk kimia sebagai pemicu pertumbuhan.
“Saat ini petani masih belum bisa menggunakan pupuk organik 100 persen, tapi bertahap dan diharapkan tahapan untuk menyesuaikan penggunaan pupuk organik ini tidak terlalu lama,” kata Isna. [ant.nas]

Tags: