Wali Kota Hadi Pastikan Penerapan Prokes Museum Rasulullah

Wali Kota Hadi Sidak Prokes di Museum Rasulullah. [wiwit agus pribadi]

Probolinggo, Bhirawa
Seiring bertambahnya angka penyebaran Covid 19, Wali Kota Habib Hadi Zainal Abidin memastikan penerapan Protokol Kesehatan (Prokes) diperketat, khususnya di area Museum Rasulullah. Guna memastikan hal itu, wali kota melakukan sidak di museum yang berada di Jl Suroyo, Minggu (29/11) malam. Bahkan Forkopimda putuskan pasar Tugu ditutup sementara.
Awalnya, Habib Hadi menuju tempat pembelian tiket, karena di depannya tersedia tempat cuci electrik. Pengunjung yang akan membeli tiket atau masuk harus mencuci tangan dengan sabun menggunakan alat detektor, sehingga tak perlu dipencet manual. Kondisinya bagus dan ada petugas yang bertugas mengarahkan pengunjung sebelum menuju pintu masuk museum.
Berikutnya, wali kota melepas alas kaki sama seperti yang dilakukan para pengunjung. Setelah alas kaki diletakkan di tempat yang tersedia, baru disemprot handsanitizer elektrik. Di depan pintu masuk pun sudah ada tanda yang terpasang agar tidak berkerumun.
“Saya ingin memastikan Prokes diberlakukan secara ketat di museum ini. Karena saya sidak di fasilitas umum lainnya ada empat cuci tangan elektrik yang macet sehingga tidak bisa digunakan. Alhamdulillah di museum ini sudah sesuai Protap dalam penerapan Prokes. Termasuk tanda physical distancing menuju pintu masuk maupun di area dalam museum,” ujarnya.
Wali kota juga bersyukur, karena barang peninggalan bersejarah Kota Probolinggo yang dipajang selama ini semakin dikenal masyarakat luas. Mengingat posisi penempatan berada di pintu awal masuk. ”Dulu meski gratis, jarang dikunjungi museum ini oleh orang luar kota. Namun sejak ada museum peninggalan Rasulullah dan para sahabatnya, ikut terdongkrak pula minat melihat barang bersejarah tentang kota ini,” tutur wali kota.
Habib Hadi juga melihat jumlah pengunjung yang dibatasi jumlahnya setiap kali masuk area ini. Dengan ruangan yang bisa menampung ratusan orang itu, diperkenankan hanya 40 orang tiap sesi. Dan ketika masuk pintu utama yang dipamerkan berupa janggut dan rambut Rasullullah, terompah, darah bekam serta surban/imamah, pengunjung kembali dikurangi dan hanya 20 orang yang boleh masuk. Itupun jaraknya diatur dan ada petugas yang mengarahkan sesuai protokol kesehatan.
“Alhamdulillah sudah sesuai harapan kami dalam penerapan Prokes dan ini akan terus dipantau. Semoga ke depan segera ada investor yang membangun museum lebih besar, sehingga bisa menampung lebih banyak artefak peninggalan Rasulullah dan para sahabat,” harapnya.
Saat wali kota Sidak, bersamaan dengan rombongan dari Pasuruan yang berkunjung. Mereka senang bisa bertemu Habib Hadi dan mengapresiasi keberadaan museum Rasulullah ini. ”Saya tahu dari medsos facebook dan bagi saya membayar tidak masalah, karena tidak sebanding dengan rasa cintanya kepada baginda Rasulullah SAW,” ujar Rahmawan salah satu pengunjung. [wap]

Tags: