Wali Kota Hadi Tinjau M Bakri Balita Penderita Lumpuh Otak

Wali kota Hadi saat kunjungi M Bakri di rumahnya. [wiwit agus pribadi/bhirawa]

2,5 Tahun Lumpuh Otak, Baru Sekali Dibantu Dinsos Popok
Kota Probolinggo, Bhirawa
Wali Kota Probolinggo Habib Hadi Zainal Abidin merespon cepat laporan warga mengenai Muhammad Bakri balita berusia 2,5 tahun yang mengalami lumpuh otak, yang tinggal di Jl. Mawar RT.04/RW.01 Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.

Balita laki-laki ini, merupakan putra kedua dari pasangan suami-istri Syamsul Arifin (35) dan Khoiriyah (25). Saat didatangi Wali Kota Rabu, (27/1) di rumahnya, Bakri hanya bisa berbaring di ranjang. Sesekali, ia menangis.

Saat mengunjungi bocah malang ini. Dan diputuskan untuk dilakukan pengobatan lagi di RSUD dr Mohamad Saleh Kota Probolinggo, dengan biaya ditanggung oleh pemerintah kota Probolinggo. ” Inilah peran pemerintah semoga anak ini sehat,” ujar Walikota.

M Bakri lahir normal dan sehat. Namun, sejak usia 6 bulan sering panas dan kejang-kejang. Sejak itu, M Bakri sering keluar masuk rumah sakit, namun penyakitnya tak kunjung sembuh.

Bakri pun divonis menderita penyakit Celebral Palsy atau lemah otak (Celebral Palsy) dan epilepsi (Ayan). “Alhamdulillah mendapat perhatian langsung dari pak wali habib membantu keluarga saya,” ucap Syaiful Arifin.

Setelah mendengar pemberitaan tentang kondisi Muhammad Bakri, balita asal Jalan Mawar Gang Sukun, Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo yang membutuhkan bantuan biaya dan pertolongan pada Selasa (26/1). Wali Kota Habib Hadi Zainal Abidin langsung melihat kondisi sebenarnya anak pasangan Khoiriyah – Samsul Arifin, Rabu (27/1) pagi.

Tidak sendiri, wali kota hadir dengan Sekda drg Ninik Ira Wibawati, Asisten Pemerintahan Paeni, Plt Direktur RSUD dr Mohamad Saleh dr Abraar HS Kuddah, Camat Kademangan Pujo Agung Satrio, Plt Dinsos P3A, Dinkes P2KB dan Puskesmas Ketapang.

Bakri yang kini berusia dua tahun sepuluh bulan ini menderita Celebral Palsy. Sehari-hari ia dirawat oleh sang ibu, sedangkan ayahnya bekerja di bengkel. Diketahui, bahwa Muhamad Bakri sudah mendapatkan paket gizi seperti susu dan biskuit setiap bulan dari Dinkes P2KB dan ada bantuan dari Dinsos.

Wali Kota Habib Hadi pun meminta dr Intan yang ikut mendampingi kunjungan itu segera memeriksa kondisi Bakri. Dari keterangan Khoiriyah, sebelumnya anaknya pernah menjalani terapi di puskesmas. Sekitar setahun lalu sudah disarankan untuk dirujuk ke Malang namun keluarga tidak berangkat karena bingung tidak ada yang menjaga.

“Setelah kami cek sejak baru lahir sudah ada perawatan di puskesmas yang tentunya itu menjadi upaya dari pemerintah. Disampaikan juga (oleh orangtuanya) sering fisioterapi dan disarankan dirujuk pada waktu itu. Pemerintah ini sudah berupaya, namun keluarga membawa untuk ke alternatif, ini yang tidak dicover oleh BPJS maka perlu kemandirian keluarga dan bantuan warga,” jelas Habib Hadi.

“Pemerintah betul-betul sudah hadir, tidak ada kata tidak ditangani. Biaya sudah ditanggung BPJS, Dinsos dan Dinkes sudah memberi asupan, sudah tersampaikan. Kami mengklarifikasi bahwasanya pemerintah sudah hadir sejak lama,” imbuh wali kota.

Untuk menangani kondisi Muhamad Bakri, Wali Kota Habib Hadi pun menegaskan agar Bakri menjalani terapi di RSUD dr Mohamad Saleh selama dua kali seminggu. Jika orang tua kerepotan transportasi maka wali kota meminta ambulans siaga yang ada di puskesmas atau pustu terdekat untuk mengantar.

Sementara itu, dr Abraar HS Kuddah mengungkapkan Cerebral Parsy merupakan terjadinya kerusakan permanen pada sel otak karena kecatatan sejak lahir. Penyebab bisa karena saat ibu hamil terjadi infeksi, saat melahirkan ada trauma jalan lahir, saat hamil ibu terjatuh, saat bayi dirawat lalu jatuh.

“Kami konfirmasi memang ibunya pernah jatuh. Celebral Parsy ini permanen, kemungkinan sembuh kecil tetapi dilakukan fisioterapi, rehab medik, speech therapy seoptimal mungkin, minimal bisa membantu,” jelasnya.

Khoiriyah pun menyatakan pihaknya akan melakukan fisioterapi seperti yang disampaikan oleh wali kota. “Demi kesembuhan anak saya. Terima kasih buat semuanya sudah mengunjungi anak saya,” ujar Khoiriyah yang mengaku pernah jatuh saat hamil 7 bulan di tempat kerjanya dulu.

Pilu nian nasib Muhammad Bakri. mengalami kelumpuhan otak (celebral palcy) dan epilepsi. Dua bulan lagi, Maret 2021, Bakri akan berusia genap tiga tahun.

Namun sampai sekarang kondisi Bakri tidak kunjung membaik. Ia hanya bisa berbaring di ranjang atau bersandar pada pangkuan ibunya, tutur Syaiful Arifin.

Sejak mengalami sakit panas dan kejang pada usia enam bulan, balita itu sering masuk-keluar rumah sakit. Bakri pun divonis menderita penyakit Celebral Palsy atau lumpuh otak yang mengganggu perkembangan otaknya. Selain Celebral Palsy Bakri juga mengidap epilepsi.

“Dulu pernah sakit panas dan kejang, sebulan masuk rumah sakit. Terus di rekam otak atau EEG (Elektroensefalogram-red), katanya Celebral Palsy sama epilepsi,” ungkap Khoiriyah.

Ayah Bakri bekerja di bengkel sedangkan ibunya berhenti bekerja di pabrik garmen untuk bisa merawat anak semata wayangnya itu. Anak pertama pasutri itu telah meninggal saat lahir prematur.

Menurut Khoiriyah, Sejauh ini pengobatan Bakri hanya mengandalkan fisioterapi di Puskesmas Ketapang. Terapi itu dilakukan tiga kali dalam satu pekan.

“Dulu kontrol terapi seminggu tiga kali. Tapi sudah satu tahunan tidak terapi lagi,” katanya. Karena keterbatasan biaya, kedua orang tua Bakri kini hanya mengandalkan pengobatan alternatif.

Sementara bantuan dari pemerintah setempat, dikatakan Khoiriyah hanya datang dari Dinas Sosial (Dinsos) berupa diapers (popok modern) dan susu formula. “Pernah dapat bantuan dari Dinsos, dikasih pampers 2 dan susu 4 kotak. Itu cuma satu kali,” kata Khoiriyah.

Khoiriyah menceritakan selain pernah mengalami sakit panas dan kejang, ia pernah terjatuh di tempat kerjanya saat sedang hamil Bakri. Alham dulillah harapan saya selama ini dan do’a kami terkabul dengan kedatangan pak wali hari ini dan siap membantu pengobatan Bakri, tambah Khoiriyah. [wap]

Tags: