Wali Kota Probolinggo Upayakan Penangganan Anjal Penghuni Pasar Sesuai Harapan

Wali kota Hadi bersama dua anjal pasar gotong royong.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Kota Probolinggo, Bhirawa
Masih ingat sidak Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin ke Pasar Gotong Royong, Selasa 7/1 lalu? Sidak itu mendapati sejumlah bedak pasar yang beralihfungsi menjadi tempat tinggal hingga meresahkan masyarakat. Dalam waktu tiga hari, wali kota meminta pengalihan fungsi itu segera diatasi.
Untuk menangani semuamitu dua anak jalanan (anjal) yang tinggal di Pasar Gotong Royong dipanggil oleh Wali Kota Hadi di kantornya. Mereka adalah Samsul Hadi, 23 tahun dan Mohammad Riki Wardana, 20 tahun.
Di lobby Kantor Wali Kota, Hadi ngobrol dengan Samsul dan Riki didampingi Kepala UPT Pasar Kota Probolinggo M.Arief Billah disaksikan para jurnalis. Samsul Hadi berasal dari kawasan Merpati (sebuah daerah di Kota Probolinggo), sedangkan Riki beralamat di Jalan Hayam Wuruk.
Saat ditanya kenapa tidak pulang ke rumah orangtuanya saja? “Karena saya sudah tidak dianggap. Sudah sejak kecil saya tidak tinggal di rumah,” jawab Samsul, Minggu 12/1/2020 yang sudah jadi anak jalanan dan pernah tinggal di sebuah Rumah Singgah di Kota Probolinggo.
Kini Samsul dan Riki sudah berumah tangga. Samsul baru saja punya anak, istrinya melahirkan anak pertamanya lima hari lalu. Mereka menikah secara siri. Samsul setiap harinya berjualan es tebu di sekitar Pasar Gotong Royong, sedangkan Riki memilih jadi pengamen.
Wali Kota Hadi merasa bertanggung jawab kepada warganya. Ia ingin mengetahui apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk membantu keduanya. “Punya keahlian apa? Ingin berubah atau tidak? Biar kami ini bisa memperhatikan dan mengupayakan sesuai yang kalian berdua harapkan,” tanya Hadi.
“Saya pengen dodolan, jualan pentol,” jawab Riki. “Saya pengen usaha, punya rombong buat jualan,” sambung Samsul. Keduanya kompak ingin berubah menjadi lebih baik dan mengakui tidak punya tempat tinggal. “Saya berpesan pasar harus kembali ke fungsi yang seharusnya. Kalian harus bisa berpikir kalau pasar tidak layak untuk tempat tinggal,” terang wali kota Hadi Minggu 12/1/2020.
Soal tempat tinggal, wali kota berencana akan mencarikan tempat yang lebih layak adalah rusunawa. “Akan kami upayakan rusunawa yang kosong. Karena di rusunawa banyak yang tidak sesuai akan kami rapikan dan bisa ditempati,” imbuh Hadi.
Kepada Samsul dan Riki, wali kota Hadi menuturkan, anak-anak di Kota Probolinggo harus diperhatikan. Jika ada kendala harus ada solusi penyelesaiannya. Ia pun berpesan, Samsul dan Riki tidak perlu minder dan mau berusaha menjadi orang yang benar, tidak seperti masa mudanya yang ia habiskan di jalanan.
“Setiap orang punya kesempatan berubah menjadi lebih baik. Jangan minder dan bilang tidak bisa mengaji. Meski pun bertato, shalat ya shalat. Masih ada kesempatan untuk siapapun memperbaiki diri asal ia benar-benar niat berubah,” pesannya.
Wali kota Hadi juga mengapresiasi dan mendukung lembaga yang dibentuk jurnalis Kota Probolinggo yang dibuat untuk mewadahi anak jalanan. Pemerintah Kota Probolinggo punya kebijakan pro rakyat seperti kesehatan dan pendidikan. Selain itu, Samsul dan Riki bisa mengikuti pelatihan dari Balai Latihan Kerja. Kemudian dibantu peralatan usaha oleh DKUPP.
“Saya bersyukur rekan-rekan jurnalis bisa mengambil peran, saya support. Asal ada kemauan maka semangat untuk masa depan yang lebih baik bisa sampean raih. Jadi orang yang bermanfaat ya,” tuturnya.
“Alhamdulillah saya bisa bertemu dengan Pak Wali. Dan, alhamdulillah saya nanti bisa dapat tempat tinggal. Sekarang masih menunggu,” tandas Samsul usai bersalaman dengan Habib Hadi.
Kepala Pasar Gotong Royong Arifbillah, kalau sudah mokong, ya bukan wewenang saya. Saya akan berkoordinasi dengan Dinas Satpol PP dan Dinsos, katanya.
Mantan Seklur Triwung Kidul ini juga mengingatkan ke 9 anak jalanan dan pengamen yang bermukim, untuk tidak tinggal di pasar. Sedang bagi mereka yang hanya tidur dan tidak tinggal atau bermukim di pasar, tidak masalah.
“Perintah pak Wali kota, kami diminta mengembalikan fungsi pasar. Kalau hanya tidur atau istirahat, itu bukan kewajiban kami. Nggak ada yang bisa melarang orang tidur di sini,” tegasnya.
Tempat asal mereka, dari berbagai daerah di Jawa Timur, mulai dari Ngawi, Sidoarjo, Kabupaten dan Kota Probolinggo serta beberapa daerah lainnya, empat orang bermukim atau tinggal di los lantai 1 yang tidak ditempati pedagang. Sedang yang lima remaja, hanya tidur dan berkunjung ke Samsul, tambahnya.(Wap)

Tags: