Warga Kota Batu Gelar Ngarak Banteng

Para seniman Bantengan terus mengasah kemampuannya dengan mengadakan Ngarak Bantengan di Desa Oro-Oro Ombo, Minggu (25/1). Kegiatan ini akan menjadi agenda rutin dari warga setempat.

Para seniman Bantengan terus mengasah kemampuannya dengan mengadakan Ngarak Bantengan di Desa Oro-Oro Ombo, Minggu (25/1). Kegiatan ini akan menjadi agenda rutin dari warga setempat.

Batu, Bhirawa
Jelang pelaksanaan era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di tahun ini, membuat warga pedesaan di Kota Batu mulai bergeliat melakukan berbagai persiapan. Sebagai warga di sebuah Kota Wisata, mereka memperkuat seni dan budaya yang dimiliki agar bisa berkiprah di era tersebut. Minggu (25/1), warga Desa Oro-Oro Ombo Kota Batu mengadakan ‘Ngarak Bantengan’ untuk menambah kemampuan dan kreatifitas warga untuk ikut beraksi di kesenian asli Kota Batu ini.
Kegiatan ngarak bantengan ini mulai digiatkan oleh warga setempat sejak 3 tahun terakhir. Dari waktu ke waktu, pelaksanaan kegiatan ini terus mendapatkan tambahan jumlah peserta. Begitu juga dengan kreatifitas permainan yang dilakukan juga terus meningkat.
”Selain menjadi wahana saling bertukar pengalaman dan pengetahuan seputar seni, kegiatan ini untuk ajang silaturahmi antar grup dan masyarakat. Karena melalui seni Bantengan ini, bisa merukunkan antar warga,” ujar kordinator pelaksana Ngarak Bantengan, Suparman, Minggu (25/1).
Dalam pelaksanaan Ngarak bantengan kemarin, ratusan penonton tumplek blek di sepanjang Jl Raya Oro-Oro Ombo. Atraksi ini memang menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar. Tidak hanya masyarakat Desa Oro-Oro Ombo, banyak juga penonton yang berasal dari desa-desa lain di Kota Batu, bahkan dari Kabupaten Malang ikut serta dalam atraksi.
Grup Bantengan yang ikut sertapun tidak hanya berasal dari Kota Batu. Beberapa grup Seni Bantengan dari Kabupaten Malang seperti Kecamatan Pujon, Tumpang dan beberapa kecamatan lain ikut serta menyemarakkan kegiatan ini.
Dan untuk meningkatkan daya tarik dan minat wisatawan, maka dalam acara ini juga tidak hanya menampilkan permainan bantengan saja. Di antaranya dengan menambah atraksi debus dan permainan lingkaran api.
Salah satu grup debus juga menunjukkan atraksi seorang laki-laki tidur terlentang di aspal. Kemudian sebuah motor melintas di atas papan yang ditaruh di atas tubuh laki-laki tersebut. Begitu motor melintas, tepuk tangan pun membahana.
Atraksi lain adalah permainan api yang dilakukan oleh salah satu grup bantengan. Tidak hanya mengandalkan lecutan cemeti, grup macan yang biasanya menjadi penggoda bantengan ini melompati cincin berapi. Sementara pemain yang lain tidak henti-hentinya menyemburkan api dari mulutnya. Atraksi ini juga mendapatkan perhatian dari penonton.
Sebenarnya banyak grup yang ingin ikut menyemarakkan acara kali ini. Namun karena sesuatu hal, mereka tidak bisa ikut menampilkan kebolehannya kepada masyarakat maupun wisatawan. “Kita harapkan, kesenian Ngarak Bantengan bisa terus mendapatkan nama di mata wisatawan nasional maupun wisatawan dari Negara Asean terutama saat pelaksanaan era MEA nanti,”pungkas Suparman. [nas]

Rate this article!
Tags: