Warga Bubutan Tolak Selebaran Surat Risma

Muhammad Nur Taufik

Taufik: Tidak Bijak dan Ciderai Demokrasi di Pilkada
Surabaya, Bhirawa
Beredarnya video berdurasi 1 menit 37 detik berisi konten surat Walikota Surabaya Tri Rismaharini ajakan kepada warga Surabaya untuk mencoblos Paslon nomer urut 1 Eri Cahyadi-Armuji, Rabu (2/12/2020) lalu menuai kekecewan dari warga Bubutan.

Ketua RT 04 RW 05 Bubutan Muhammad Nur Taufik mengatakan, selebaran surat ajakan yang dibagikan 2 orang tidak dikenal untuk mendukung Eri yang berkop foto Risma, dalam amplop coklat yang berstempel Surat Bu Risma untuk Warga Surabaya juga berisi pamflet Paslon 01 tanpa meminta izin pengurus kampung RT 04 RW 05 Bubutan ini jelas mencedrai sebuah nilai demokrasi.

“Saya ini RT-nya. Siapapun yang masuk diwilayahnya harus lapor apapun itu bentuknya. Saya kecewa dengan Bu Risma, karena sikap atau tindakan membagi-bagikan surat ini sangat mencederai demokrasi di Surabaya,” kata Taufik ketika dikonfirmasi awak media tentang kebenaran video selebaran surat Bu Risma di RT 04 RW 05 Bubutan, Kamis (3/12/2020).

Taufik menjelaskan, karena kebebasan demokrasi khususnya di Kota Surabaya warga berhak memilih salah satu kandidat di Pilkada pada 9 Desember 2020.

“Siapapun paslon boleh berkampanye asalkan secara terbuka di kampung Bubutan. Tapi Risma sebagai Wali Kota Surabaya, pribadi ataupun tidak pribadi itu tidak diperbolehkan. Jelas Bu Risma menyimpang dari aturan ASN Pemkot Surabaya dan ini tidak bijak dalam berpolitik,” tegas Taufik.

Melihat kejadian itu, Taufik berharap kepada Bu Risma maupun tim suksesnya agar belajar duhulu berpolitik.

“Karena saya setingkat RT aja tahu aturan. Jadi inilah harus butuh kedewasaan di dalam aturan mainnya berpolitik. Dak harus muda berpikir berpolitik tua. Lah ini orang tua kok berpolitik seperti preman . Saya mohon bagi-bagikan surat ajakan itu segera diakhiri,” ungkapnya.

Menanggapi penolakan warga atas beredarnya surat Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini yang mangajak warga untuk memilih salah satu calon, Politisi PKB, Mahfudz menilai, hal itu menunjukkan warga Surabaya sudah dewasa.

“Warga sudah pinter, tidak bisa didikte lagi untuk menentukan pilihan. Mereka sadar selama ini kekuasaan hanya dinikmati segelintir orang,” katanya.

Untuk itu, Mahfudz meminta Risma untuk bersikap elegan. Tidak terus menerus menabrak aturan dalam Pilwali Surabaya.
“Ini contoh buruk demokrasi,”katanya. [dre]

Tags: