Warga Wajib Bangun Sumur Resapan

Hari Santoso

Hari Santoso

Kota Batu, Bhirawa
Pemerintah Kota (Pemkot) Batu terus mencari langkah untuk menyelamatkan sumber mata air yang banyak terdapat di Kota Wisata ini. Di antaranya Pemkot tengah mempersiapkan penerbitan Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang perlindungan lingkungan hidup. Diharapkan dengan keberadaan Perwali ini bisa melindungi sumber mata air dari kepunahan.
Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Batu, Hari Santoso menjelaskan, ancaman terberat pada masa datang yang dihadapi penduduk Kota Batu adalah ancaman kekeringan. Hal ini akan terjadi akibat menyusutnya jumlah dan debit sumber mata air.
Saat ini ancaman tersebut memang belum terasa. Namun dengan semakin berkembangnya pembangunan mengakibatkan banyak lahan terbuka hijau tertutup bangunan.
“Saat ini kepedulian masyarakat untuk menghijaukan hutan dan melestarikan sumber mata air masih sangat rendah. Hal tersebut bisa berdampak buruk pada keberadaan sumber mata air yang ada di Kota Batu,” Hari Santoso, Senin (7/9).
Ia menambahkan, hasil pendataan Bidang Sumberdaya Mineral, Dinas Pengairan dan Bina Marga Kota Batu jumlah sumber mata air yang ada saat ini mencapai 138 titik. Adapun pemanfaatannya untuk air minum, air baku sawah, untuk industri serta untuk peternakan. Dan dalam Perwali yang akan diterbitkan, Pemkot Batu mengharuskan masyarakat dan pelaku usaha untuk menyiapkan biopori dan sumur resapan.
Hari mencontohkan, jika pengembang membangun rumah luasnya 20 meter persegi, maka ia memiliki kewajiban untuk membuat satu biopori. Kalau pengembang membangun rumah luasnya 36-50 meter persegi, maka ia harus membangun satu sumur resapan.
”Tujuan dibangun biopori dan sumur resapan supaya air hujan tidak terbuang percuma ke sungai. Adanya kantung-kantung air disekitar rumah untuk menjaga kelestarian sumber mata air yang ada saat ini,”jelas Hari.
Selain membangun biopori dan sumur resapan, KLH juga akan menanam pohon di dekat sumber mata air. ”Memang ada sebagian orang peduli dengan sumber mata air, ada pula yang cuek. Pada musim kemarau ini memang terjadi penurunan debit mata air, tapi tidak sampai terjadi kekeringan,” tambah Hari.
Pada akhir tahun ini, Pemkot akan membangun 30 titik sumur resapan di dekat sumber Ngesong, Desa Bumiaji. Diharapkan, air hujan bisa tertampung di sumur resapan tersebut sehingga debit air di sumber Ngesong stabil.
Terpisah, pegiat Lingkungan Hidup Kota Batu, Hariadi menyatakan, selain menghijaukan kawasan sumber mata air dengan tanaman keras, pemerintah juga harus menggalakkan penghijauan di tepi jalan. Karena saat ini suhu udara di Kota Batu mengalami peningkatan. Siang hari suhu udara rata-rata mencapai 25-28 derajat celcius. Kenaikan suhu udara ini karena peningkatan volume kendaraan dan permukiman serta pemanasan global.
”Jadi kondisi ini harus diimbangi dengan memperbanyak menanam pohon di tepi jalan, termasuk di lahan kurang produktif. Kalau di Kota Batu mengalami krisis air, maka dampaknya bisa sampai Kota Surabaya sebagai hulu Sungai Brantas,” ujar Hariadi.  [nas]

Rate this article!
Tags: