Waspada dalam Wisata

Karikatur Liburan PelajarLIBURAN sekolah sudah tiba, bersamaan pula dengan libur akhir tahun (dan peringatan hari keagamaan). Ini musim puncak rekreasi kedua setelah libur hari raya Idul Fitri. Sepanjang jalanan menuju tempat wisata sudah sangat padat. Tak jarang diiringi hujan, serta angin kencang. Karena itu perlu ekstra waspada, terutama pada tujuan wisata alam (plantations tour) saat di pantai atau di pegunungan. Bencana longsor dan badai bisa datang dalam hitungan beberapa menit.
Badai bisa datang di darat (berupa puting beliung), bisa di laut, juga bisa di udara. Sebagaimana terjadi pada pesawat AirAsia rute Surabaya ke Singapura, Ahad pagi (28 Desember). Pesawat hilang karena “ditelan” badai udara. Perlu pertimbangan untuk lebih memilih tujuan wisata ke-sejarah-an. Terutama yang tak jauh benar, agar tidak terlalu lama di perjalanan.  Misalnya berwisata menyambung silaturahim sanak-keluarga. Mendatangi museum atau mengunjungi makam Wali Sanga.
Lalulintas jalan akan sibuk oleh mobil pribadi maupun angkutan  (bus) wisata yang disewa. Karena itu kewaspadaan di jalan raya mesti ditingkatkan. Sudah kelewat banyak korban harta, raga dan jiwa, terbuang sia-sia di jalan raya, dalam rangka mengisi liburan sekolah. Ironisnya, kecelakaan lalulintas di darat, hampir seluruhnya (95%) disebabkan faktor human error.
Tragedi kecelakaan seluruhnya disebabkan oleh kru. Diantaranya karena sopir pengganti kurang ahli dan tidak memahami jalan yang dilintasi tujuan wisata. Kesalahan manusia dibalik stir kendaraan, menjadi faktor utama kecelakaan. Kesalahan umumnya berupa tidak terampil, ugal-ugalan, sampai dibawah pengaruh narkoba dan miras. Negara di seluruh dunia kini menerapkan hukuman berat (penjara seumur hidup) untuk pengemudi dibawah pengaruh narkoba dan miras.
Pengguna jasa bisa bertanya secara langsung, apakah sopir dalam keadaan sehat? Bahkan untuk mencegah ulah sopir mbeling, di-rekomendasi-kan pula uji petik. Serta pentingnya sertifikasi sopir angkutan umum wisata. Pemerintah Daerah (Kabupaten dan Kota) mesti mewaspadai usaha jasa wisata bodong. Kelayakan kendaraan (terutama rem, ban, gigi persneling, serta radiator) mesti diperiksa cermat.
UU Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalulintas telah banyak mengatur berbagai hal sekitar pengemudi dan kendaraan. Tetapi yang diatur hanya “penampakan” luar. Misalnya pasal 310 ayat (1) hingga ayat (4) memang telah merinci orang (pengemudi) dan kendaraan yang mengakibatkan kecelakaan. Begitu pula pasal 287 ayat (5) telah merinci batas kecepatan terendah dan tertinggi. Serta pasal 283 yang melarang ugal-ugalan dalam mengemudi.
Kelayakan jalan raya juga sering menjadi penyebab kecelakaan. Dalam pasal 26 Undang-undang Nomor 22 tahun 2009, diatur tanggungjawab masing-masing pemilik jalan umum. Kita ketahui, masih banyak jalan yang tidak layak di-lalulintas-i. Di jalan by-pass Mojokerto, tempat terjadi kecelakaan yang merenggut 20 korban jiwa, ternyata tidak dilengkapi penerangan jalan, serta seluruh amanat pasal 25 UU 22 tahun 2009 diabaikan. Pemerintah maupun pengelola jalan tol bisa dituntut manakala kondisi jalan tidak dilengkapi sarana keselamatan.
Di dalam arena wisata juga tak kalah gentingnya. Banyak aksiden terjadi, umumnya disebabkan keteledoran pengawasan yang kurang memadai. Ada tempat wisata yang kurang memperhatikan keselamatan, kurang perawatan. Lebih lagi, musim hujan belum reda benar. Sehingga ancaman tanah longsor harus diwaspadai. Terutama pada arena wisata pegunungan. Ingat dulu, di Pacet, Mojokerto terjadi longsor sampai menyebabkan banyak korban jiwa.
Tetapi banyak tragedi terjadi yang disebabkan kecerobohan pengunjung. Misalnya di tempat pemandian atau kolam renang. Mesti diperhatikan benar kedalaman air yang disesuaikan dengan usia dan tinggi badan. Juga pendampingan tim resque (penyelamat). Maka misi wisata sebagai re-kreasi mesti dijaga benar, jangan  berubah menjadi musibah bencana.

                                                                                         ———   000   ———

Rate this article!
Waspada dalam Wisata,5 / 5 ( 1votes )
Tags: