Waspada Kecanduan Gawai

foto ilustrasi

Anak balita (bawah lima tahun) sudah pintar menggunakan gawai memilih hiburan yang disukai. Remaja di bawah umur juga semakin sering “tarung mandiri” bermain game menggunakan gawai. Ironisnya, gejala kecanduan gawai semakin masif seiring protokol kesehatan (Prokes), diam di rumah, dan belajar di rumah. Badan Kesehatan Dunia, WHO (World Health Organisation) me-warning, kewaspadaan penggunaan gawai pada anak. Karena bisa menjadi penyakit gangguan mental.

Kecanduan smartphone bisa menyebabkan gangguan penyakit psikis (kejiwaan), dan penyakit fisik terutama di bagian mata, sampai jantung. Juga bisa menyebabkan penyimpangan seksual. Di rumah sakit jiwa RSJ Cisarua, Jawa Barat, dalam dua bulan telah terdaftar 14 kasus pasien kecanduan game gawai. Sedangkan selama tahun 2020 tercatat sebanyak 104 pasien. Diawali dengan gejala kecemasan, emosi tidak stabil, dan berhalunisasi.

Berdasar data layanan manajemen konten HootSuite, dan agensi pemasaran media sosial, sebanyak 73,7% masyarakat Indonesia telah tersambung internet. Laporan bertajuk “Digital 2021” juga mencatat peningkatan pesat (15,5%) dibanding tahun lalu. Saat ini sebanyak 202 juta jiwa telah melek internet. Sebanyak 170 juta tergolong aktif (setidaknya salaam 3 jam 14 menit) di platform jejaring sosial. Sedangkan rerata penggunaan internet selama 8 jam 52 menit.

Peng-akses-an internet di Indonesia tercatat lebih lama 2 jam 9 menit (32%) dibanding rata-rata penggunaan global, yang berlangsung selama 6 jam 43 menit per-hari. Sehingga penggunaan kuota lebih boros. Berdasar penjejakan profesi kesehatan jiwa anak, terdapat orangtua yang mengeluarkan biaya belanja pulsa paket kuota sampai Rp 2 juta per-bulan. Kecanduan gawai bukan hanya pada game. Melainkan juga meng-akses internet menonton hiburan.

Ketagihan gawai, bukan hanya pada anak dan remaja. Melainkan juga pada balita usia 2-4 tahun, terutama kesukaan meng-akses channel YouTube dengan berbagai konten hiburan anak. Kalangan kesehatan jiwa anak, merekomendasikan peng-akses-an internet untuk anak tidak lebih dari 2 jam 30 per-hari. Dibutuhkan pendampingan orang dewasa terdekat anak pada awal proses klik setiap konten internet. Sekaligus menghindarkan anak dari konten negatif (kekerasan, dan pornografi).

Lama waktu paparan layar digital setiap hari berkonsekuensi selaras dengan meningkatnya keluhan pada mata. Umumnya menampakkan gejala dry-eye (mata kering), dan kasus computer vision syndrome. Terasa sakit kepala, pandangan kabur, pegal pada leher, mata nyeri. Berlanjut rasa tidak nyaman di mata, penglihatan terganggu (pandangan ganda), disebabkan ke-tidakstabil-an film air mata. Berpotensi kerusakan pada permukaan mata.

Dokter psikolog seluruh dunia kini gencar meng-kampanye-kan pencegahan berbagai penyakit ke-jiwa-an, dengan pembatasan penggunaan gawai smartphone, dan Iphone. Beberapa penyakit nyata-nyata makin masif menggejala. Terutama insomnia. Penggunaan gawai malam hari dapat mengganggu siklus tidur. Karena cahaya terang yang dipancarkan akan menghambat melantonin (hormon yang membantu proses tidur). Melantonin tidak suka cahaya.

Penyakit dampak gawai tidak dapat dianggap enteng. Bahkan para ahli syaraf telah mendeteksi gejala no-mobile-phone-phobia (biasa disingkat nomophobia). Merasa cemas manakala jauh dari smartphone. Serta dengan gejala berkeringat, mual, dan gemetar. Sebanyak 66% pengguna smartphone sudah mulai terjangkiti. Pada pria juga berakibat berkurangnya produksi sperma.

Cara tebaik menghindari dampak gawai, adalah mengurangi penggunaan smartphone, dan komputer. Tidak lebih dari 3 jam per-hari, dengan cara pembagian waktu buka smartphone sebanyak 6 kali sehari. Pemerintah daerah seyogianya juga segera membuka konsultasi gangguan kesehatan dampak gawai, termasuk melalui cara online. Juga siaga membuka klinik kecanduan gawai di rumah sakit jiwa.

——— 000 ——–

Rate this article!
Waspada Kecanduan Gawai,5 / 5 ( 1votes )
Tags: