Wayang Kulit Masa Pandemi Digelar Bertepatan dengan Haul Bung Karno

Dr Sri Untari Bisowarno MAP, saat menyerahkan Gunungan Wayang kepada Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko Minggu malam (21/6) lalu. [m taufiq]

Kota Malang, Bhirawa
Dr Sri Untari Bisowarno MAP mengaku bangga dan memberikan apresiasi, pada acara gelar budaya wayangan memperingati Haul Bung Karno, di Gedung KNPI Malang, Minggu (21/6) lalu. Acara yang dirangkai dengan Memetri Nusantara Mepak Jaman Anyar (New Normal) menampilkan dalang Ki Ardi Purbo Antono, yang memiliki makna yang sangat besar.
Pagelaran wayang kulit dihadiri Wali Kota Malang, Sutiaji, Bupati Malang, Sanusi ini, Ketua DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika, dan para pejabat Forkompimda Malang ini.
Menurut Sri Untari, ini menandakan jika masyarakat Malang Raya ini, memiliki rasa cinta dan menjunjung tinggi nama besar Bung Karno. Sehingga sangat membanggakan warga masyarakat Malang, gelaran Wayang Kulit, tidak saja membuktikan warga Malang ini menjunjung tinggi sejarah, tetapi lebih dari itu adalah bukti kecintaan mereka terhadap Bung Karno. Apalagi Bung Karno meningalkan tiga hal penting bagi bangsa Indonesia. Peninggalan pertama berupa pondasi dan dasar Negara Indonesia Pancasila, Rasa Keperdulian dengan sesama atau Marhenis, dan Tri Sakti.
“Pancasila sebagai dasar negara kita, yang harus terus dipegang hingga kini dan dimasa yang akan datang. Karena Pancasila merupakan alat Pemersatu Bangsa perajut nusantara dari Sabang sampai merauke,” Imbuh Sri Untari yang juga Sekretaris DPD PDIP Jawa Timur ini.
Sedang Marharnisme ajaran mencintai orang kecil, ini sangat tepat untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa, dengan mewujudkan kepedulian terhadap sesama. Apalagi dimasa pandemi Covid 19 seperti saat ini. kepekaan dan keperdulain terhadap orang kecil menjadi sebuah keharusan. Sedangkan ajaran Tri Sakti, yang ditinggalkan Sang Proklamator, mewujukan Indonesia yang merdeka berdaulat dalam politik, mandiri dalam perekonomian, dan berkepribadian dalam bidang Budaya.
“Tiga Konsep dasar triksakti yang sangat fundamental bagi bangsa Indonesia, apabila dilakukan maka kesejahteran akan didapat oleh bangsa Indonesia,” tuturnya.
Diakui Sri Untari masih banyak kendala untuk mewujudkan konsep dasar itu, tetapi dengan kesunguhan dari para genarasi muda, maka cita-cita luhur itu akan tercapai. Senyampang di Bulan Juni ini mari berdoa untuk Bung Karno, semoga Putra Sang Fajar itu, yang menjadi tongak sejarah berdirinya Republik Indonesia ini, mendapat tempat yang mului di Surganya Allah SWT,” tambah Untari.
Kepada para generasi muda, Sri Untari berharap, untuk terus meneladani kepemimpinan Soekarnio dan ajaranya untuk dilalukan dalam berbangsa dan bernegara kedepan.
Sementara itu, Dalang Ardi Purbo Antono mengutarakan, kegiatan ini didukung kelompok masyarakat seni budaya di Kota Malang, Sanggar Sapujagat Nahdhotussakofa Nusantara, Lesbumi dan sejumlah kelempok masyarakat lainnya. Gelaran wayang kulit masa pandemi ini dengan tetap mengedepankan standart kesehatan ini, mengambil lakon Pendowo Mijil.
Menurut Ki Ardi, ada pesan yang disampaikan, yakni mengajak bersama -sama pada momentum Haul Bung Karano, bertepatan dengan mapak tekane jaman anyar (New Normal). Untuk menciptakan imun yang baik dan kuat, itu tidak hanya sekedar bersumber pada makanan dan minuman atau vitamin saja. Te tetapi psikologis atau psikis kejiwaan, dengan dihibur juga mampu meningkatkan imun tubuh.
“Dengan ide – ide dan gagasan baru dalam sebuah karya Senin imun dalam tubuh menjadi tumbuh. Kalau, hanya makan dan minum saja tidak punya percaya diri. Keberanian dan percaya diri memunculkan ketangguhan ini ada pada hasanah budaya nusatara mulai dikibarkan antaran lain, mengedepankan kembali ke produk rempah ketahanan doa,” tandasnya.
Karena Corona besarnya dibawah nano, hukum fisika klasik tidak bisa digunakan untuk menangani mahluk seukuran nano. Hukum fisika quantim nano menyebar. Makanya menolak harus dengan doa.
“Doa ketemunya adalah gelombang suara yang menangkal tolak balak bahkan mengahancurkan, seluruh penyakit. Makanya gelaran wayang ini juga menjadi sarana berdoa agar dihindarkan dari segala musibah,” pungkasnya. [mut]

Tags: