Yakinkan Ancaman Bioterorisme Sudah Tahap Mengkhawatirkan

Prof Dr Chairul Anwar Nidom saat ditemui di media center Kampus C Unair dua hari jelang pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular.

Prof Dr Chairul Anwar Nidom saat ditemui di media center Kampus C Unair dua hari jelang pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular.

Kota Surabaya, Bhirawa
Di negara bagian manapun, aksi terorisme selalu menjadi ancaman yang paling diwaspadai, termasuk Indonesia. Namun, perhatian masih lebih banyak diberikan pada aksi-aksi terorisme yang melibatkan kontak senjata. Sementara, babak baru terorisme dengan menggunakan senjata biologis nyaris terabaikan. Prof Dr Chairul Anwar Nidom, Guru Besar Ilmu Biokimia dan  Biologi Molekular Universitas Airlangga meyakinkan, ancaman ini telah mencapai tahap mengkhawatirkan.
Munculnya sejumlah wabah di Indonesia seperti flu burung, flu babi dan virus Ebola secara mendadak telah mengejutkan masyarakat Indonesia sejak 2003 lalu. Siapa menyangka, jika virus-virus ini diduga kuat menyebar tidak secara alami, alias sengaja disebar dengan motif tertentu. Jika iya, maka ini sesungguhnya babak baru aksi terorisme yang muncul seiring arus globalisasi. Para ilmuwan pun menyebutnya sebagai aksi bioterorisme atau aksi menggunakan senjata biologis.
Bioterorisme ini menjadi bahan orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular Universitas Airlangga Prof Chairul Anwar Nidom, Sabtu (17/1)  besok. Dua hari jelang pengukuhannya, Nidom  mengungkapkannya kecemasannya terhadap serangan bioterorisme yang keadaannya telah mencapai taraf mengkhawatirkan.
Hal ini bisa dilihat dari banyaknya virus di Indonesia yang konstruksinya bukan dari Indonesia serta menimbulkan wabah yang tidak alami. “Saya tiap hari di laboratorium meneliti virus-virus ini. Secara pribadi, sebagai seorang peneliti saya katakan ini sudah mengkhawatirkan,”kata Nidom saat ditemui di Kampus C Unair, Kamis (15/1).
Dia mencontohkan pada kasus flu burung pada  2003 dan 2004 yang ternyata konstruksi virusnya sama persis dengan yang ada di Guangzou, Tiongkok. Kemudian virus flu burung yang menyebabkan kematian bebek dalam jumlah besar pada  2012 di Brebes, Jateng ternyata cocok dengan Vietnam dan Tiongkok.
Untuk membuktikan apakah virus ini sengaja dibawa dari luar negeri atau memang mutasi alami, Nidom melakukan penelitian tentang migrasi burung dan kemungkinan adanya perdagangan unggas. Hasilnya, di Brebes, sebagai kota pertama wabah flu burung, tidak pernah ada migrasi burung. Di kota itu juga tidak pernah ada unggas yang dikarantina. “Jadi ini tidak bisa dikatakan wabah alami,”tegas dosen berprestasi Unair 2007.
Penelitian tak kalah mencengangkan dilakukan pada 2009. Nidom yang tergabung bersama tim peneliti Avian Influenza Research Center Unair tidak sengaja menemukan penanda jejak virus Ebola pada beberapa spesies hewan, terutama orangutan. Hasilnya, jejak virus Ebola yang ditemukan ini 20,1 persen sesuai dengan virus Ebola yang terjadi di Afrika. Sementara yang di Filipina hanya 1,4 persen. “Dari sini muncul pertanyaaan. Apakah jejak Ebola ini hanya peristiwa alam biasa atau hal-hal lain yang tidak kita sadari,”tanya suami Achmamik Hariati Achmadoen.
Dia meyakini virus Ebola pada orangutan ini tidak muncul secara alami, tetapi ada kesengajaan. Apalagi selama ini orangutan sering menjadi objek kajian lembaga luar negeri. Dan keberadaannya di perkebunan sawit ini menjadi ancaman bagi keberlanjutan bisnis minyak di mana Indonesia menjadi salah satu produsen terbesarnya. “Apakah bisa menjamin lembaga luar negeri ini bebar-benar ingin mengonservasi orangutan atau ada motif lain. Siapa yang tahu,”selorohnya.
Diakui Nidom, dalam bioterorisme ini motif ekonomi memang lebih menonjol dibandingkan motif ideologi. Serangan flu burung yang sudah 10 tahun lebih menjangkit dan hingga kini belum ada tanda-tanda hilang menimbulkan kerugian hingga triliunan rupiah. Kerugian lainnya, Indonesia belum mampu melakukan ekspor unggas dan produknya seperti sebelum kejadian wabah flu burung.
Ironisnya, kondisi ini kurang direspon pemerintah. Hal ini bisa dilihat dari kebijakan vaksinasi yang dinilai anggota The Association of Institute for Tropical Veterinary Medicine (AIVTM) tidak tepat. Padahal menurutnya peran pemerintah sangat vital untuk menangkal aksi teror ini. “Negara memiliki tanggungjawab secara moral untuk menangkal ini. Jangan sampai warga sakit yang seharusnya tidak sakit menjadi sakit karena senjata biologis ini. Saat ini perang bukan hanya masalah alutsista tetapi juga senjata biologis,”tegasnya.
Unair yang menurut dia mumpuni di bidang riset kesehatan dan vaksin perlu mengembangkan Pusat Riset/Kajian Anti Bioterorisme. Nidom sendiri kini tengah menyiapkan vaksin biodefense sebagai pertahanan awal manusia maupun binatang untuk mencegah masuknya senjata biologis (virus). Untuk mengembangkan vaksin ini, pihaknya membutuhkan dukungan pemerintah serta kalangan usaha. “Kami juga selalu berkooordinasi dengan Kementerian Pertahanan untuk menindaklanjuti setiap temuan,”ujarnya.
Selain Nidom, di hari yang sama juga akan dikukuhkan Prof I Ketut Sudiana sebagai Guru Besar Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran serta Prof Tini Surtiningsih sebagai Guru Besar Mikrobiologi Tanah dan Tanaman. [tam]

Tags: