YLKI: Penurunan Harga BBM Tak Berarti

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Surabaya, Bhirawa
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengkritisi kenaikan tarif listrik dan gas elpiji 12 kg yang berlaku mulai awal Januari 2015 sebagai kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat secara keseluruhan.
“Dari kemampuan bayarnya, walau yang disasar adalah kelompok kelas menengah ke atas, tetap saja kenaikan elpiji dan listrik ini berat,” kata Anggota Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, Senin (5/1).
YLKI mengkritisi, langkah pemerintah yang menurunkan harga jual BBM jenis premium dan solar menjadi tak berarti karena masyarakat dihantam dengan kenaikan tarif listrik dan elpiji. Terlebih, listrik dan elpiji merupakan dua kebutuhan yang berdampak lebih siginifikan ketimbang BBM dalam kehidupan sehari-hari.
“BBM itu tidak signifikan penurunannya. Misal yang tadinya beli Rp 20.000 dapat 2,3 liter sekarang harga turun bisa dapat 2,6 liter. Tapi (penurunan harga BBM) jadi tidak ada artinya karena listrik dan elpiji yang dipakai setiap harinya harus naik,” katanya.
Tulus Abad menilai kebijakan pemerintah menaikkan harga elpiji 12 kg sebagai kebijakan yang diterapkan oleh selayaknya sebuah perusahaan swasta. “TDL dan kenaikan elpiji,pemerintah seperti memberikan penghitungan dari pola perusahaan swasta. Di mana semua tarif diikuti dengan hitung-hitungan komponen untung rugi,” tutur¬† Tulus Abadi.
Tulus menjelaskan, bahwa perhitungan pemerintah yang dilakukan merujuk dengan mekanisme harga pasar. “Pemerintah harus menyelesaikan persoalan itu. Tidak semua komoditi atau pun harga barang bisa diselesaikan dengan kenaikan tarif,” tandasnya
Sebelumnya, mulai 1 Januari 2015, sesuai Permen ESDM No 31 Tahun 2014, pemerintah menerapkan tambahan delapan golongan yang dikenakan skema  adjustment tariff atau tarif penyesuaian.
Ke delapan golongan tersebut adalah rumah tangga R1 (1.300 VA), rumah tangga R1 (2.200 VA), rumah tangga R2 (3.500-5.500 VA) yang dikenakan tarif listrik Rp1.352 per KWh, naik sekitar Rp 213 per KWh dari tarif sebelumnya Rp 1.145 per KWh.
Golongan lainnya yang mengalami penyesuaian adalah industri menengah I3 (di atas 200 KVA), penerangan jalan umum P3, pemerintah P2 (di atas 200 KVA), industri besar I4 (di atas 30.000 KVA), dan pelanggan layanan khusus. Dengan demikian, per 1 Januari 2015, hanya pelanggan rumah tangga R1 450 dan R1 900 VA, lalu sosial, bisnis kecil, dan industri kecil yang belum dikenakan tarif penyesuaian dan masih diberikan subsidi. Di sisi lain, Pertamina secara resmi menaikkan harga gas elpiji 12 kg sebesar Rp 1.500 per kg mulai 2 Januari 2015 demi mencapai harga jual keekonomian setelah sekian lama merugi. [cty,geh]

Rate this article!
Tags: