Yulius Sutanto: Pengusaha Batik Sekarpandan Hadirkan Beragam Inovasi Terkini

Pemilik CV Lancar Rejeki Bersama, Yulius Sutanto saat memamerkan koleksi batik. [m ali/bhirawa]

Optimis Pasar Masih Terbuka Luas
Surabaya, Bhirawa
Virus Corona telah menyita perhatian banyak pihak, virus ini telah melumpuhkan perekonomian. Perusahaan dan pembisnis  negara banyak yang mengalami kerugian. 

Akibat wabah ini membuat banyak orang tidak keluar rumah, dan pemerintah mengeluarkan peraturan bagi siapa yang berkeliaran di luar rumah. Peraturan ini menjadikan masyarakat benar-benar harus tinggal di dalam rumah (stay at home). 

Kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah tersebut tentu sangat berpengaruh terhadap segala sisi kehidupan, hal ini sangat berdampak terhadap perekonomian dunia usaha.

Salah satu perusahaan yang terkena dampak adalah CV Lancar Rejeki Bersama,  perusahaan yang bergerak dibidang tekstil kain batik ini selama pandemi mengalami penurunan omset yang cukup signifikan

“Pada saat awal pandemi memang perusahaan saya ini mengalami penurunan omzet yang cukup signifikan, terutama saat akhir bulan Maret sampai akhir bulan Juni banyak kota yang menerapkan PSBB yang mengharuskan pelanggan saya toko – toko kain harus tutup selama 3 bulan.” Terang Pemilik CV Lancar Rejeki Bersama, Yulius Sutanto, saat ditemui di Surabaya, Rabu (17/04).

Tapi setelah itu saya mulai berpikir bagaimana caranya untuk mengembalikan omzet dan membuat perusahaan ini tetap bertahan dengan keadaan pandemi yang belum tahu kapan selesai nya.

Salah satu langkah yang saya lakukan adalah mengeluarkan produk batik baru batik katun 40s dengan brand “Chesa” yang untuk masyarakat menengah ke bawah, batik katun 50s dengan brand “Queen”, dan batik katun 60s dengan brand “Sekarpandan” yang saya bisa klaim memiliki bahan katun berkualitas,  motif batik dan warnanya dengan batik tulis yang harganya jutaan menjadi harga yang lebih terjangkau oleh semua orang.

Saya mencontoh motif dari batik tulis yang saya beli dengan harga jutaan dan lebih memilih motif batik atau warna batik yang lebih modern supaya anak – anak muda milenial yang dulu bilang batik hanya orang tua sekarang menjadi senang memakai baju batik.

Ternyata benar bulan Oktober omzet saya perlahan mulai naik dan sampai saat ini bisa di bilang kembali seperti sebelum pandemi.

“Saya sih berharap tetap bisa mempertahankan kualitas bahan dan konsep saya yang tetap akan membeli batik tulis dengan harga yang cukup mahal jutaan tapi saya produksi di batik katun print saya dengan harga jauh lebih terjangkau agar semua orang indonesia bisa bangga memakai batik yang sudah diakui UNESCO jadi warisan budaya dari Indonesia.” Ujarnya

Saya berharap dengan adanya vaksin yang sudah didatangkan oleh pemerintah diharapkan mampu menurunkan angka penderita Covid-19. Jika penderita covid sudah turun saya optimis ekonomi dan dunia usaha bisa tumbuh dan bergerak lagi. (ma)

Tags: