Zero Pasien Covid 19 di Kota Probolinggo Hanya Bertahan Dua Hari

dr Abraar menginformasikan pasien positif Covid 19 bertambah 10 orang.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Satgas Apresiasi Kesadaran Warga Jalani Tes Covid-19
Kota Probolinggo, Bhirawa
Setelah sempat zero pasien Covid-19 yang dirawat di RSUD dr Mohammad Saleh selama dua hari (18-19/6) , Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Probolinggo dr Abraar HS Kuddah menginformasikan perkembangan baru. Pada 20 Juni 2020, jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 bertambah 10 orang.

“Sembilan orang dirawat di RSUD dr Mohammad Saleh, sedangkan satu pasien dirawat di Surabaya. Semua pasien dalam kondisi stabil,” terang dr Abraar Senin (22/6).

Sepuluh (10) pasien baru itu antara lain 1 PDP (Pasien Dalam Pengawasan) beralamat di Kelurahan Triwung Kidul yang sudah dirawat di RSUD dr Mohammad Saleh; 4 OTG (Orang Tanpa Gejala) yang sebelumnya diisolasi di rusunawa dari Kelurahan Mayangan; 2 OTG dari Kelurahan Curah Grinting dan Kanigaran; 1 pasien dari Kelurahan Triwung Kidul, 1 dari Kelurahan Wiroborang dan 1 dari Kelurahan Jati yang baru pulang dari Kalimantan. Mereka berasal dari klaster hasil tracing pasien DBD yang sudah sembuh, klaster Kalimantan dan Kabupaten Probolinggo.

“Pekerja dari Kalimantan ini datang ke Kota Probolinggo, secara sadar melakukan rapid test secara mandiri dan hasilnya reaktif dibawa ke rusunawa. Setelah swab keluar baru saja hasilnya confirm positif,” ungkap dr Abraar.

Selain merawat 9 pasien baru, RSUD dr Mohamad Saleh juga merawat 4 pasien kiriman dari luar daerah yaitu Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Surabaya dan Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo.
Jubir sekaligus Plt Direktur RSUD dr Mohammad Saleh ini menjelaskan, memang beberapa hari lalu kabar sangat menggembirakan bahwa di RSUD setempat zero pasien Covid 19 dan hanya ada yang dirawat di Surabaya.

“Zero bukan berarti kita semua harus lalai. Bertambahnya pasien ini bukan suatu aib. Artinya, masyarakat Kota Probolinggo semakin sadar dengan adanya Covid 19 mereka mau melakukan tes sendiri dan mau mengikuti prosedur kesehatan sampai terbukti hasil swab confirm positif,” bebernya.

dr Abraar menuturkan, stigma masyarakat bahwa pasien Covid 19 adalah aib harus berubah. Pasien Covid 19 bukan untuk dijauhi, yang dijauhi adalah virusnya. Caranya menjauhi adalah disiplin melakukan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami mohon kesadaran dari warga Kota Probolinggo yang semakin baik ini bisa diajak kerja sama. Dengan pro aktif datang ke fasilitas kesehatan untuk memeriksakan diri. Tidak perlu takut. Cara ini lebih mudah bagi kami untuk segera melakukan tracing dan terapi,” ungkap dokter spesialis bedah pecinta motor gede (moge) ini.
Plt Kepala Dinkes P2KB dr NH Hidayati menambahkan cara terpenting memutus mata rantai penyebaran Covid 19 melalui testing, tracing, treatment serta isolasi.

“Ini membutuhkan kerja sama masyarakat agar tetap disiplin memakai APD (Alat Pelindung Diri). Untuk masyarakat pakai masker, cuci tangan dengan sabun, menyiapkan hand sanitizer dan tetap di rumah saja,” tegas dr Ida.

Hingga Minggu (21/6) malam, Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Timur telah menetapkan Kabupaten Probolinggo sebagai zona kuning dalam penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).
Menyikapi penetapan tersebut, Juru Bicara Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto menyampaikan bahwa penetapan Kabupaten Probolinggo sebagai zona kuning penyebaran Covid-19 ini sebagai ukuran bagi pihaknya untuk melakukan evaluasi terus atas apa yang sudah dilakukan dalam upaya penurunan atau pemutusan penularan dari Covid-19.

“Karena kita masuk wilayah kuning dari orange menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan sudah mulai menunjukkan hasil. Itu merupakan salah satu indikator-indikator keberhasilan kita untuk mengurangi resiko penularan, menurunkan angka kesakitan atau meningkatkan angka kesembuhan Covid-19 di Kabupaten Proboinggo,” katanya.
Hanya saja Anang meminta agar dengan penetapan zona kuning ini hendaknya bisa masih mawas diri, karena ini masih baru. Artinya ini baru di awal karena ke depan semuanya masih bisa terjadi. “Kami berharap ini sebagai bahan evaluasi atas langkah-langkah kita di segala gugus pencegahan Covid-19 di Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.

Meskipun saat ini masih ada 10 kasus di Kabupaten Probolinggo jelas Anang, tetapi itu sudah jauh berkurang bila melihat angka konfirmasi sebelumnya sejumlah 126 kasus. “Perubahan dari orange ke kuning itu menunjukkan sudah mulai adanya penyembuhan-penyembuhan yang massif, angka ODP (Orang Dalam Pemantauan) yang sudah semakin menurun, angka PDP (Pasien Dalam Pengawasan) yang juga semakin menurun serta angka kematian yang tidak bertambah,” tegasnya.

Menurut Anang, ini tentunya menjadi tolok ukur dari mapping tersebut. Tapi sekali lagi ini baru awal, sampai saat ini pihaknya sudah menghasilkan indikator yang positif dan sudah menjadi daerah yang beresiko ringan. “Cuma kita tidak boleh berlengah dan tidak boleh hanya berbangga, tapi kita harus mengevaluasi diri. Kami sangat sadar dengan hal tersebut, makanya kita berharap ini menjadi bahan introspeksi diri untuk bekerja lebih baik, lebih fokus dan bersinergi untuk upaya yang lebih baik lagi ke depan,” tambahnya.(Wap)

Tags: