Pemkot Matikan CCTV dan Hentikan Razia

a9af5fccdf694f6a24b0d751b044dd9cPemkot Surabaya, Bhirawa
Menjaga suasan kondusif menjelang penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak, Pemkot Surabaya mengehntikan operasi dan razia serta mematikan CCTV sementara waktu.
Disampaikan Wakil wali kota , Wisnu Shakti Buana, upaya mengentiukan razia dan mematikan CCTV ini untuk menjaga agar semua pihak cooling down sehingga situasi kondusif terjaga.
“Kondisi sekarang, semua pihak harus cooling down, baik warga yang kontra maupun Pemkot, untuk itu akan kami koordinasikan dengan Sekda untuk menghentikan razia, demikian juga dengan soal CCTV, kami akan mengikuti warga yang meminta agar posisinya dipindah dan fungsinya hanya untuk pengamanan, bukan pemantauan aktifitas pengunjung,” jelasnya.
Namun demikian pria yang terkenal dengan sebutan WS ini tetap merasa optimis bahwa target penutupan lokalisasi akan bisa dilakukan meski harus melalui proses yang panjang.
Menurutnya dari hasil turun lapangan yang dilakukannya termasuk dalam  diskusi interaktif, warga dianggap mulai bisa memahami upaya penutupan lokalisasi ini.
”Kami tetap optimis bisa dilakukan, karena pelaksanaan program ini sejatinya baru kita awali meski sudah berjalan lama, untuk itu acara temu warga terus kami lakukan, hingga saat ini sudah mencakup 4 RW, tinggal 1 RW yang posisi tepat di gang Dolly,” ujarnya.
WS juga menjelaskan bahwa hasil pertemuan yang dilakukan dengan warga terdampak mulai ada progress yang positif, asal warga terdampak diperhatikan kelangsungan kehidupannya dengan jaminan penghasilan, dan pemkot konsisten dengan program dan janjinya.
”Hasilnya jelas, secara implisit warga sudah mulai memahami program yang disiapkan, terutama soal kesiapan Pemkot dalam menjamin kelangsungan hidup mereka terkait penghasilannya yang akan hilang,” jelas ketua DPC PDIP Surabaya ini.
Lebih lanjut WS juga mengatakan bahwa untuk menjamin kelangsungan penghasilan warga yang hilang, pemkot juga akan menyiapkan lowongan kerja bagi keluarga warga terdampak yang mempunyai ijazah setaraf SMA untuk dipekerjakan di Pemkot Surabaya.
“Jika diantara mereka ada yang mempunyai ijazah setaraf SMA dan sebagainya bisa kita masukkan ke tenaga outshourching di Pemkot, sementara untuk yang lain diberikan latihan usaha dan sarana kebutuhan untuk usahanya,” tandasnya.
Tentang penolakan warga sekitar Dolly – Jarak yang menolak ditutupnya lokalisasi membuat Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini diam seribu bahasa.
Ketika ditanya soal aksi warga tersebut, Risma hanya bungkam. Wali kota perempuan pertama di kota Pahlawan ini langsung pergi meninggalkan kerumunan wartawan saat ditemui di lobi Balai Kota Surabaya, Selasa (20/5).
”Ya sudah tak apa, gak papa,” jawabnya sambil berjalan meninggalkan kerumunan wartawan.
Lebih lanjut, Risma mengaku tidak akan tinggal diam. Pihaknya berencana membuat tindakan balasan berupa konvoi untuk mendekati para personal di sekitar lokalisasi Dolly dan Jarak.
Sayang, Risma enggan menjelaskan maksud dari rencana tersebut.
”Wes pokoke iki sek tak rapatno karo Camat dan Kepala Dinas (Pokoknya sekarang ini masih saya rapatkan dengan Camat dan Kepala Dinas),” tandasnya singkat. [dre.gat]

Tags: