Belgia Tanya Pilpres, Tunisia Soal Pendidikan

9-duta-besar-belgiaPertemuan Gubernur dengan Dua Dubes di Grahadi
Pemprov, Bhirawa
Gubernur Jatim Dr H Soekarwo SH, MHum kedatangan tamu istimewa yakni dari Duta Besar (Dubes) Belgia untuk Indonesia Mr Filip Cums dan Dubes Tunisia untuk Indonesia Mourad Belhassen. Dalam pertemuan berbeda waktu itu, kedua dubes membahas dua masalah yang berbeda.
Jika Dubes Tunisia lebih tertarik berdiskusi seputar pendidikan Islam, berbeda dengan Dubes Belgia yang lebih banyak menyoal perkembangan seputar Pileg dan  Pilpres di Indonesia. Pertemuan yang tidak terlalu lama itu dilakukan di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (8/5).
Menurut Soekarwo, berkali-kali Dubes Belgia Mr Filip Cums menanyakan soal Pileg dan Pilpres yang dianggap sangat penting untuk memberi rasa aman bagi negara-negara di Eropa khususnya Belgia sebagai markas Uni Eropa.
“Negara di Eropa ingin Indonesia ini damai, jangan sampai ribut. Sebab jika ribut bisa mengganggu pasar mereka. Makanya yang ditanyakan banyak soal Pileg dan Pilpres. Sedangkan masalah ekonomi dan sosial juga akan berdampak ke soal politik,” katanya.
Mantan Sekdaprov Jatim ini menduga, Dubes Belgia sudah banyak membaca dan menghimpun data terkait kondisi politik di Indonesia saat ini. Sehingga mereka ingin menghimpun data tidak hanya di Jakarta tapi juga di Jatim.
Bisa jadi, lanjutnya, mereka belum mendapat jawaban pasti terkait masalah masalah politik, ekonomi, dan sosial di Jakarta, sehingga memandang perlu untuk datang ke Jatim. “Indonesia sebagai negara yang jumlah penduduknya mencapai 250 juta orang itu market yang luar biasa. Kalau Indonesia damai maka sangat berpengaruh pada market di negara Eropa, makanya kepastian akan sosial, ekonomi dan politik harus pasti,” ujarnya.
Pakde Karwo, sapaan lekat Soekarwo, yakin sebelum mereka ke Jatim sudah ada pertemuan-pertemuan untuk menghimpun data seperti apa Jatim. “Jadi sifatnya menghimpun data saja,” ujarnya.
Ditegaskannya, munculnya pertanyaan seputar perkembangan Indonesia di Jatim karena Dubes Belgia belum menemukan adanya capres yang memberi solusi terkait masalah tersebut. Dicontohkan, seperti soal kemandirian pangan.
“Mereka hanya berbicara soal kemandirian pangan, tapi teknisnya bagaimana apakah bekerjasama dengan lembaga riset serta bagaimana teknologinya. Hal itulah yang mereka belum mendapatkan jawabannya,” ungkapnya.
Dubes Belgia Filip Cums menyatakan, kondisi Jatim yang aman dan nyaman menjadi modal utama bagi para investor Belgia untuk berinvestasi. Hal tersebut menjadi nilai tersendiri untuk menarik investasi ke Jatim.
“Kondisi yang nyaman dan aman menjadi poin utama agar investasi bisa datang ke sebuah daerah. Jatim dirasa nyaman dan aman bisa dibuktikan ketika di bandara, disambut dengan keramahan para masyarakatnya secara tidak langsung memberikan kesan tersendiri,” ungkapnya.
Sementara Dubes Tunisia, menurut Pakde Karwo, lebih banyak membahas soal pendidikan agama dan perdagangan. Kerjasama antara Jatim dan Tunisia sudah berlangsung lama di bidang tersebut.
Dikatakannya, selama ini, sudah ada santri yang telah diberikan beasiswa untuk belajar agama ke Tunisia. Akan tetapi jumlahnya masih sedikit dibandingkan negara Islam yang menjadi destinasi seperti Mesir dan Yaman.
“Semoga pertemuan ini lebih mempererat hubungan Tunisa dan Jatim. Pertukaran pelajar menjadi sebuah cara ampuh untuk mempererat hubungan kerja, di samping ada berbagai bidang yang bisa dikembangkan,” katanya.
Menurut Pakde Karwo, letak geografis Tunisia yang strategis, dengan perbatasan negara-negara Afrika dan Eropa merupakan kesempatan bagi pengusaha UKM Jatim, untuk memasarkan produk ekspornya ke Eropa dan Afrika melalui Tunisia. Karena roda perekonomian Jatim 54 persen digerakkan oleh pengusaha UKM.
“Dengan kunjungan ini pula, diharapkan dapat mendorong dan menyampaikan ke pengusaha Tunisia, untuk dapat bekerjasama dengan pengusaha di Jatim, ” pungkasnya. [iib]

Tags: