Hadapi MEA, Gelar Kursus Bahasa Asing di Desa

17-MEA-2015Banyuwangi, Bhirawa
Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi segera menggelar kursus bahasa asing di tingkat desa pada Februari 2015. Bahasa asing yang dimaksud yakni Inggris, Mandarin, dan Arab. Tujuannya memberdayakan pemuda usia produktif dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Setiap desa berhak memilih satu bahasa untuk pembelajaran.
Sekretaris Dispendik Banyuwangi Dwi Yanto mengatakan telah menyiapkan minimal satu tutor untuk satu desa. Ia menargetkan peserta di tiap desa sebanyak 12 orang. Dengan asumsi ada 217 desa/kelurahan yang tersebar di Banyuwangi, maka ditargetkan minimal jumlah peserta sebanyak 2.604 orang. “Tutor diambil dari tenaga pengajar di sekolah-sekolah dan bekerjasama dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP),” ujar Dwi Yanto, Senin (12/1).
Peserta dibebaskan memilih salah satu bahasa sesuai minat masing-masing. Namun bagi pemuda di suatu desa yang berkeinginan untuk memilih bahasa yang berbeda dengan rekan sedesanya, kata Dwi, bisa bergabung dengan kelompok lain di desa yang berbeda.
Proses pembelajaran dirancang 67 kali tatap muka dengan waktu 3 jam setiap pertemuan. Total ada 201 jam yang akan ditempuh dalam waktu 3 bulan. Jika dalam waktu 3 bulan dirasa belum mahir, Dwi memberi opsi buat memperpanjang pembelajaran hingga Juni.
Pelaksanaan waktu belajar bersifat fleksibel tergantung kesepakatan tutor dan siswa kursus. “Mereka bisa bersepakat menentukan hari dan waktu belajarnya. Bisa Selasa, Kamis, Sabtu atau Senin, Rabu, Jumat. Waktu pelaksanaannya kami sarankan pada sore hari pukul 14.00 – 17.00 atau di malam hari pada pukul 18.00 – 21.00,” tutur Dwi Yanto.
Hal ini supaya tak mengganggu aktivitas bekerja atau sekolah. Materi difokuskan pada peningkatan soft skill berupa kemampuan berbicara, kemampuan menulis dan mendengar. Peserta tidak hanya berkutat pada teori, tapi praktik dengan sesama siswa. “Minimal bisa menangkap pesanlah,” kata Dwi Yanto.
Program ini melibatkan lintas sektoral, yakni Dispendik, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Dinas Sosial, Transmigrasi dan Tenaga Kerja  (Dinsosnakertrans), Himpunan Penyelenggara Pelatihan dan Kursus Indonesia ( HIPKI), serta Ikatan Penilik Indonesia.
Dispendik menangani sisi akademik seperti modul dan petunjuk teknisnya¬† dengan dibantu oleh HIPKI. Dispora menentukan SDM peserta lewat penjaringan by name by address. “Dinsosnakertrans yang akan mengarahkan setelah siswa menguasai bahasa tersebut, mereka akan disalurkan kemana,” ujarnya.
Kegiatan diadakan di balai desa agar memacu optimisme dan memotivasi peserta lebih bersemangat menguasai bahasa asing. Ia berharap, ke depan kian memudahkan mereka untuk mendapatkan atau menciptakan lapangan pekerjaan sesuai kemampuan berbahasa yang dimiliki. Grand launching kegiatan ini rencananya pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2015. [nan]

Tags: