Status Awas, Bromo Tetap Diserbu Wisatawan

DSC002861-225x300Probolinggo, Bhirawa
Walaupun objek wisata Gunung Bromo berstatus awas level II dan wisatawan dilarang mendekat padaradios 1 km dari kawah Bromo, namun tetap diserbu ribuan wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman). Bahkan tingkat hunian (okupansi) hotel-hotel di lereng atas Gunung Bromo selama tiga hari terakhir ini  rata-rata 90 persen.
“Syukurlah, menjelang liburan musim panas di Eropa membuat tingkat hunian hotel di kawasan Bromo rata-rata 90 persen,” ujar Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Probolinggo, Digdoyo Djamaluddin, Minggu (11/5). Bahkan hotel-hotel yang berdekatan dengan bibir Laut Pasir (Kaldera) Bromo sampai penuh (full booked) sejak beberapa hari ini.
Yoyok, panggilan akrab Digdoyo Djamaluddin, menambahkan, sebenarnya sejak awal April lalu tingkat kunjungan wisatawan ke Gunung Bromo terus meningkat. “Selama liburan musim panas di Eropa, Juli-September ini Bromo selalu mendapatkan berkah dikunjungi wisatawan mancanegara,” ujarnya.
Justru dengan mengeluarkannya beklerang an cukup besar dirasakan sudah sepekan ini, wisatawan nusantara pun banyak dating ingin tahu keadaan sebenarnya untuk berwisata ke Bromo. Hotel-hotel di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo pun ‘panen raya’.
“Bahkan wisatawan yang tidak mendapatkan kamar hotel pun rela menginap di sejumlah homestay milik warga Tengger,” ujarnya. Tidak hanya pemilik hotel, warga Tengger yang memiliki homestay juga menangguk berkah melubernya wisatawan.
“Syukurlah setelah Bromo tidak ‘batuk-batuk’ lagi, saat ini hanya mengeluarkan belerang kunjungan wisatawan mulai ramai,” ujar Santoso, pemilik homestay di Dusun Cemorolawang, Desa Ngadisari. Petani sayur-mayur itu mengaku, puluhan wisatawan menginap di homestay-nya selama ini.
Seperti diketahui, di lereng atas Bromo bercokol sebanyak 12 hotel kelas melati. Mulai di lereng paling, yang terdekat denga Laut Pasir (kaldera) Bromo yakni Hotel Bromo Permai I, Cemara Indah, Lava View, dan Cafe Lava.
Agak ke bawah ada hotel Java Banana, Utjik, Yoschis, Sion View, Nadia. Terus ke bawah masih ada sejumlah hotel seperti Sukapura Permai, Primadona, hingga Sangdimur. Selain itu ada puluhan homestay milik warga Tengger di Desa Ngadisari.
Tidak hanya kalangan hotel dan restoran yang menangguk ramainya kunjungan wisatawan. “Pemilik jip wisata dan kuda tunggangan juga tidak menganggur lagi sejak wisatawan mulai ramai,” ujar Penasihat Paguyuban Jip Wisata Bromo, Supoyo.
Ketika wisatawan ramai, seluruh jip wisata, 185 unit dan sekitar 200 kuda tunggangan “beredar” di Laut Pasir Bromo. Armada jip dan kuda-kuda itu mengantarkan wisatawan dari kawasan Cemorolawang ke kaki (tangga) Bromo, Gunung Penanjakan, dan Puncak Seruni (Seruni Point).
Ramainya wisatawan Bromo dibenarkan Kepala bagian Kominfo Kabupaten Probolinggo, Yulios. “Lonjakan signifikan wisatawan terlihat sejak sepekan kemarin atau sejak 4 Mei kemarin,” ujarnya.
Disbudpar mencatat, pada 4 Mei, jumlah wisatawan ke Gunung Bromo yang melintasi pintu gerbang Kabupaten Probolinggo sebanyak 18 wisman dan 35 wisnus. Pada 5 Mei, Bromo dikunjungi 25 wisman dan 27 wisnus, 6 Mei sebanyak 23 wisman dan 40 wisnus.
Pada 7 Mei, Bromo dikunjungi 26 wisman dan 117 wisnus. Jumlah wisatawan terus bertambah pada 8 Mei dengan 59 wisman dan 407 wisnus. Dan pada 9 Mei, Bromo dikunjungi 39 wisman dan 1.325 wisnus. Belum lagi wisatawan yang berkunjung ke Bromo melalui pintu gerbang Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Pintu gerbang ke Bromo via Probolinggo dinilai paling memadai dari segi infrastruktur jalan. [wap]

Keterangan Foto : Wisatawan lokal masih antusias menikmati panorama Bromo meski status awas dua.

Tags: