Pemprov Jatim Perbanyak Pembangunan Waduk

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Pemprov Jatim, Bhirawa
Musim kemarau yang lumayan panjang tahun ini mengakibatkan banyak wilayah Jatim yang mengalami musibah kekeringan. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim, ada sekitar 624 desa di 26 kabupaten/kota yang kena dampak kekeringan ini.
Gubernur Jatim Dr H Soekarwo menuturkan, wilayah Jatim yang cukup parah dilanda kekeringan adalah Kabupaten Lumajang, Jember, Madiun dan Mojokerto. Untuk itu, Pemprov Jatim hingga saat ini masih melakukan dropping air bersih untuk minum warga.
“Yang kita utamakan memang untuk air minum. Kalau air untuk kebutuhan cuci, mandi dan lain-lain memang belum  bisa kita lakukan. Secara keseluruhan kebutuhan air minum sudah tercukupi, kalau ada yang telat sedikit itu wajar. Tapi tidak ada yang tidak minum,” Kata Gubernur Soekarwo, Selasa (4/11).
Menurut Pakde Karwo, sapaan lekat Soekarwo, Jatim masuk dalam peta kekeringan terparah dibanding provinsi lain. Sebab provinsi paling ujung timur Pulau Jawa ini wilayah sangat luas. Selain itu, kadar airnya lebih sedikit dibanding Jawa Barat dan Jawa Tengah.
“Yang penting bukan parahnya, tapi solusi yang kita lakukan. Selain melakukan dropping air untuk solusi jangka pendek, kita juga lakukan solusi jangka panjangnya. Yaitu dengan membangun waduk di daerah-daerah yang rawan terjadi kekeringan dan banjir,” ungkapnya.
Saat ini, lanjut Pakde Karwo, beberapa waduk atau geomembran sedang proses penggarapan. Dengan dibangunnya waduk-waduk ini, harapannya saat musim hujan bisa menampung air dan saat kekeringan bisa menyalurkan air yang disimpan dalam waduk.
“Sekarang masih dalam proses pembangunan waduk besar di sejumlah daerah di Jatim. Seperti  waduk Gonggang di Magetan, Bendo di Ponorogo, Tugu di Trenggalek, Tukul di Pacitan, serta Gongseng di Bojonegoro,” Jelas mantan Sekadprov Jatim ini.
Terkait wacana pembuatan hujan buatan, Pakde Karwo mengakui, di Jatim tidak mungkin dilakukan pembuatan hujan buatan. Alasannya, potensi awan sangat minim sehingga saat disebar garam tidak akan ada hujan. “Memang tidak bisa, awannya tidak ada. Masalah ini sudah kita konsultasikan khususnya wilayah Jatim utara dan Madura,” katanya.
Pakde Karwo mengatakan, kawasan yang bisa dijadikan hujan buatan hanya ada di sekitar Malang Raya, namun di wilayah ini hujan sudah mulai turun. “Jadi meskipun kita sewa pesawat, disemprot garam, tapi yang disemprot itu tidak ada jadi tidak mungkin bisa hujan buatan,” pungkas dia. [iib]

Tags: