PJT I dan JKPKA Gelar Lomba Pemantauan Kualitas Air bagi Siswa

Surabaya, Bhirawa
Peringati Hari Air Sedunia, Perum Jasa Tirta (PJT) I menggelar lomba pemantauan kualitas air dengan melibatkan para pelajar dan sekolah di tiga wilayah sungai, yakni Brantas, Bengawan Solo dan Toba Asahan. Lomba yang digelar bersama JKPKA (Jaring-jaring Komunikasi Pemantauan Kualitas Air) itu dilaksanakan selama seminggu penuh sejak tanggal 22 Maret lalu.

Pengumuman pemenang disampaikan perwakilan PJT I melalui webinar yang digelar Selasa (30/3/2021). Adapun juara pertama diraih Korwil Toba Asahan, juara kedua Korwil Kali Madiun, dan juara ketiga Korwil Brantas Hulu Malang.

Direktur Operasional PJT I, Gok Joso Ari Simamora mengatakan, seluruh peserta lomba pemantauan kualitas air telah mempresentasikan hasil pengujiannya dengan sangat baik. Namun, kata dia, dalam sebuah kompetisi selalu dipilih yang terbaik.

“Para peserta telah mempresentasikan metode serta analisa dalam menguji kualitas air sungai di sekitar mereka. Semuanya telah menyajikan paparan yang baik. Bagi saya semuanya adalah juara, setidaknya para siswa ini telah membuktikan kepedulian pada sungai di sekitar mereka. Saya juga meminta pada seluruh peserta untuk terus menjaga kelestarian air dengan tidak membuang sampah sembarangan,” ujarnya.

Gok Joso Ari Simamora juga menyampaikan tentang pentingnya menjaga air yang diperingati oleh seluruh negara di dunia. “Seharusnya, Indonesia (dengan jumlah air yang melimpah) harus lebih peduli dalam menjaga kelestarian air. Pendidikan lingkungan, diantaranya upaya menjaga kelestarian air harus diajarkan sejak dini. Karena penanaman mental cinta lingkungan inilah yang harus ditumbuhkan pada generasi muda,” imbaunya.

Koordinator Pusat JKPKA, Soetarno Said mengatakan, penilaian dilakukannya selaku juri bersama tim dari PJT I. “Penilaian dilakukan oleh dua juri. Dari praktisi pengelola sungai ada PJT I. Sedangkan untuk metode penelitiannya, kami selaku koordinator yang menilai. Keputusan pemenang ini tidak bisa diganggu gugat,” tegasnya.

Ia menjelaskan, lomba menggunakan metode bioassessment sederhana dan model water inquiry dengan mengidentifikasi biota yang ada di air atau sungai. “Dengan proses observasi, analisis, dan diskusi secara kelompok, maka indikator biologis kualitas air bisa ditentukan dengan kode warna. Untuk hijau kualitas amat baik, biru baik, kuning sedang, dan merah jelek atau kotor,” jelasnya.

Dengan metode bioassesment yang diterapkan JKPKA dan melalui lomba itu, ia berharap dapat terbentuk masyarakat peduli sumber daya air melalui sekolah. Selain itu, siswa-siswi atau peserta juga dididik menjadi agen kepedulian bagi masyarakat, serta peduli terhadap  pelestarian sumber daya air dan lingkungan sekitarnya.

Webinar juga diisi oleh materi Water Inquiry atau Penyelidikan Air dengan Pendekatan Saintifik. Materi disampaikan oleh narasumber Akademisi Universitas Negeri Malang, Prof Dr Susriati Mahanal MPd.

Dalam paparannya, Prof Susriati menerangkan tiga metode pemantauan kualitas air menggunakan parameter fisika, kimia, dan biologi. Namun, ia menekankan paparan pada parameter biologi dengan konsep bio-indikator. (rac)

Tags: