Balitbang Bantu Alat Perekayasa Teknologi

indexPemprov Jatim, Bhirawa
Perajin tempe yang tergabung dalam Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) yang berlokasi di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo kembali  mendapatkan bantuan alat pengering dan pencacah tempe afkir Jadi tepung berprotein tinggi.
Jika tahun lalu, Balitbang Jatim menyerahkan peralatan hasil penelitian dan pengembangan rancang bangun desain reaktor hidrolisat skala UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) yang mengubah dari tempe afkir menjadi tepung yang berprotein tinggi. Kini bantuan berupa alat pengering dan alat pencacah untuk menjadikan tepung dengan skala lebih besar lagi.
“Kalau sebelumnya alatnya pengering masih berupa manual. Kini sudah dibuatkan rancang bangun yang lebih bagus lagi dengan skala produksi yang lebih besar lagi,” kata Kepala Balitbang Jatim, Ir Priyo Darmawan MSc, Senin (3/3).
Menurut Priyo, keberadaan teknologi ini turut serta dalam program zero waste. Sebab, produk tempe bisa dimanfaatkan mulai dari awal proses hingga akhir proses. Misalkan saja, kulitnya juga bisa dijadikan untuk pakan ternak, dan tempe afkir selain jadi mendol juga tepung tempe yang bernilai ekonomi.
Lebih lanjut, Kepala Bidang Sumberdaya Alam dan Teknologi, Ir Kismary mengatakan, peneliti masih akan melanjutkan pembuatan alat untuk menyempurnakan tepung tempe ini. Selain alat pengering, nantinya juga akan dibuatkan rancang bangun alat pengaya tepung, sehingga butirannya lebih halus lagi dibandingkan sebelumnya.
Kismary juga menambahkan, dari banyaknya bantuan yang diberikan Balitbang Jatim ini, maka Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, Perdagangan Dan Energi Sumber Daya Mineral
Kabupaten Sidoarjo akan menjadikan Desa Sepande ke depan menjadi desa wisata pengrajin tempe. “Memang itulah diharapkan kami, dari hulu dan hilir semuanya bergerak untuk bisa memajukan masyarakat seperti pengrajin tempe,” katanya.
Sementara, salah satu perekayasa alat teknologi ini, Ir Mujianto MP menjelaskan, hal ini merupakan kelanjutan dari hasil penelitian tahun sebelumnya. “Harapannya perajin tempe bisa memproduksi tepung ini dengan skala lebih banyak dan seragam,” katanya.
Sebelumnya, ia pernah menjelaskan, dari hasil penelitiannya, tepung tempe ini bisa bertahan hingga dua tahun. “Kalau kadar airnya 8-7 persen, maka bisa bertahan selama dua tahun,” katanya.
Mujianto juga mengatakan, perajin tempe juga tidak perlu khawatir dengan harga tepung tempe yang dihasilkan saat ini. Sebab, harga saat ini (Rp 16 ribu per kantong, red)bukanlah harga produk massal. “Kalau diproduk secara massal, maka harga tepung tempe juga tidak bakalan tinggi,” katanya.
Ia juga memaparkan, tepung tempe ini tidak harus menggunakan tempe afkir, tapi tempe yang masih fresh juga bisa dimanfaatkan untuk tepung. “Rasanya tetap sama, dan enak,” katanya. [rac]

Tags: