Masker Beraromaterapi Penangkal Stres dan Emosi di Jalan

16-Febry-KusumaKota Surabaya, Bhirawa
Siapa pun yang pernah melintasi jalan di pusaran Kota Surabaya, tentu paham bagaimana rasanya disiksa oleh kemacetan. Belum lagi udara panas dari terik matahari dan polusi asap kendaraan sering kali memicu stres dan emosi. Helm dan masker biasa saja tak cukup untuk mengobati suasana seperti ini. Karena itulah, tiga mahasiswa dari STIE Perbanas Surabaya berinovasi membuat masker yang tak biasa.
Situasi tak nyaman di tengah kemacetan semacam ini pun pernah dialami oleh tiga mahasiswa STIE Perbanas, yaitu Anugrah Febry Kusuma, Dedy Setiawan dan Jamaludin Syaifullah. Ketidaknyamanan itulah yang mendorong ketiganya untuk membuat masker tak biasa. Tidak biasa karena dari masker tersebut, pengendara motor akan mencium harum aromaterapi di sepanjang perjalanannya.
“Itu untuk menghilangkan stres selama berkendara menggunakan motor,” tutur Anugrah Febry Kusuma. Ada 10 macam aromaterapi yang disediakan yakni cempaka, green tea, frangipany, fresh fruit, jasmine, orange, lemon grass, rose, lavender dan apple. Masing-masing aromaterapi memiliki kegunaan berbeda. Seperti cempaka yang bisa menambah semangat, kehangatan, suasana gembira, mengurangi rasa takut dan kesepian.
Kemudian green tea untuk merangsang semangat, menenangkan dan menjernihkan pikiran, menetralisir polusi udara serta fresh fruit untuk relaksasi. “Jadi, kalau di jalan bisa dipilih aroma terapi yang sesuai dengan kegunaannya,”kata Febry.
Agar masker mengeluarkan aromaterapi, pengguna tidak bisa dengan menyemprotnya langsung ke masker. Sebab hal itu hanya akan membuat aroma cepat hilang. Sehingga, cara yang tepat agar tahan lama ialah dengan membuat kayu aren. Caranya, Febry menjelaskan, kulit aren dipotong menyesuaikan ukuran masker yang dibuat. Setelah itu dimasukkan dalam air panas selama kurang dari satu menit.
Proses perebusan ini untuk menghilangkan kuman dan bulu dari kulit aren tersebut. Namun demikian, saat merebus air tidak perlu sampai mendidih dan kulit kayu kemudian diangkat. Setelah direbus, kulit aren ditiriskan. Lalu direndam dalam aromaterapi yang sudah dicampur air selama beberapa saat agar aroma wangi terserap dalam serabut kulit aren. Setelah itu, kulit aren dibungkus dalam plastik agar wangi aromaterapi tidak mudah hilang.
Untuk memakainya, kulit aren yang sudah dilepas bungkus plastiknya dimasukkan dalam bagian belakang¬† masker kainnya. “Setelah itu maskernya langsung bisa dipakai, sehingga aromaterapi bisa tercium harumnya,” terang mahasiswa S1 Manajemen ini.
Masker aromaterapi ini bisa tahan selama lima hari. Jika aroma sudah mulai berkurang, kulit aren kembali bisa disemprot dengan aromaterapi. Dengan cara ini, pengendara motor tidak perlu repot-repot mencari kulit aren lagi. “Hal itu bisa dilakukan berulang-ulang dengan aneka macam aroma terapi yang disukai,” ungkap dia.
Dari hasil karyanya ini, Dedy Setiawan mampu membuat produk yang siap dijual dengan harga Rp 10 ribu. Sejauh ini, dia telah menawarkan ke sejumlah mahasiswa di lingkungan kampusnya dan berhasil laku sebanyak 15 buah. “Yang paling laris itu aromaterapi green tea. Nantinya, karya ini akan kami ikutkan lomba Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) di Dirjen Dikti,” kata Dedy. [tam]

Tags: